JAKARTA, AFU.ID - Pergerakan harga saham emiten perkebunan dan pengolahan kelapa sawit mendadak melonjak dan menjadi pusat perhatian investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Fenomena ini memicu perdebatan publik karena penguatan harga saham terjadi secara bersamaan dengan kembali mencuatnya isu titik panas (hotspot) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan serta Sumatra.
Berdasarkan data perdagangan sepekan terakhir, lonjakan tertinggi dicatatkan oleh saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang melesat hingga 52,74 persen ke level 3.070. Penguatan signifikan ini disusul oleh saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) yang melonjak 24,72 persen ke level 111, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang menguat 9,50 persen ke posisi 1.960.
Emiten sawit lainnya juga turut mengoreksi ke atas harga sahamnya secara konsisten sepanjang pekan. Saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) tercatat naik 7,87 persen ke level 1.440, disusul PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) yang menguat 5,98 persen ke level 1.595, dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang menanjak 5,69 persen hingga menyentuh level 7.900. Sementara itu, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) menguat 4,66 persen ke posisi 1.460 dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) turut naik 3,36 persen ke level 615.
Menanggapi fenomena tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara bencana karhutla dan reli saham emiten sawit. “Saya kira kita perlu hati-hati membaca hubungan antara kebakaran dan kenaikan saham sawit. Pasar sebenarnya tidak sedang merayakan kebakaran. Keduanya lebih tepat dilihat sebagai dampak dari satu faktor yang sama, yaitu kekeringan ekstrem,” ujar Yusuf, dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Yusuf menjelaskan, kekeringan ekstrem meningkatkan risiko penurunan pasokan crude palm oil (CPO) secara global. Di saat yang sama, permintaan domestik tetap terdorong oleh penguatan harga minyak dunia serta dorongan kebijakan mandatori B50.
Kombinasi faktor ini membentuk ekspektasi pasar akan terjadinya kenaikan harga CPO di masa depan, yang pada akhirnya mendongkrak harga saham para emiten perkebunan. “Penjelasannya adalah kenaikan harga komoditas bisa lebih besar daripada penurunan volume produksi. Karena itu, reli saat ini lebih banyak ditopang harga dan efisiensi pengolahan, bukan pertumbuhan panen,” ujarnya.
Meski demikian, Yusuf menilai dinamika ini cukup paradoks karena pasar lebih menyoroti potensi lonjakan harga komoditas ketimbang risiko kerusakan aset fisik maupun penurunan volume panen akibat kebakaran. Ia mengingatkan bahwa penguatan saham yang ditopang oleh efisiensi pengolahan dan kenaikan harga komoditas ini terbilang rentan.
Dampak biologis akibat kekeringan dan karhutla biasanya baru akan terefleksi secara nyata pada kinerja produksi dan laporan keuangan emiten dalam beberapa bulan mendatang. (MAR)