JAKARTA, AFU.ID — Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi menyinggung perjalanan politik Presiden Prabowo Subianto yang pernah diberhentikan dari TNI ketika merespons dinamika perombakan kabinet atau reshuffle. Hasan menilai pemberhentian dari sebuah jabatan, termasuk akibat reshuffle, tidak selalu menjadi akhir dari karier politik seseorang. Menurutnya, sejumlah tokoh justru mampu kembali ke panggung politik dengan posisi yang lebih kuat setelah mengalami fase tersebut.
Hasan mengatakan Prabowo pernah menghadapi situasi yang oleh banyak pihak saat itu dipandang sebagai akhir karier politiknya. Saat masih berdinas di militer, Prabowo merupakan perwira berpangkat letnan jenderal yang dinilai memiliki prospek karier menjanjikan. Namun, setelah diberhentikan dari TNI, perjalanan politiknya justru berlanjut hingga akhirnya terpilih menjadi Presiden pada Pemilu 2024. “Kalau dipikir-pikir ya dalam politik itu kita bisa hidup lebih dari sekali. Ada orang yang mungkin merasa ketika diberhentikan dari jabatannya kemudian itu adalah akhir dari karier politiknya,” kata Hasan dalam pernyataannya, Rabu (16/09/26).
Menurut Hasan, keberhasilan Prabowo menjadi presiden tidak diperoleh secara instan. Ia menyebut Prabowo harus melalui proses panjang dengan membangun partai politik, mengikuti beberapa pemilu, hingga beberapa kali mengalami kekalahan. Meski demikian, Hasan menilai pengalaman tersebut tidak menghentikan langkah politik Prabowo untuk terus mencari dukungan masyarakat.
“Dan akhirnya di tahun 2024, beliau mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, terpilih menjadi Presiden, dan hari ini sedang memimpin transformasi bangsa kita,” ujarnya.
Selain mencontohkan Prabowo, Hasan juga menyinggung perjalanan politik Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Menurut dia, Anwar pernah dicopot dari jabatannya sebagai wakil perdana menteri dan bahkan menjalani hukuman penjara setelah berselisih dengan pemerintahan yang berkuasa saat itu. Namun setelah melalui proses politik yang panjang, Anwar akhirnya kembali ke panggung kekuasaan dan menduduki jabatan perdana menteri.
Hasan mengatakan pengalaman Prabowo maupun Anwar menunjukkan bahwa pergantian jabatan tidak selalu menjadi penutup perjalanan seseorang di dunia politik. Ia menilai yang menentukan adalah kemampuan untuk bertahan, membangun dukungan, dan menjaga konsistensi perjuangan politik dalam jangka panjang. Karena itu, reshuffle maupun pemberhentian dari jabatan perlu ditempatkan sebagai bagian dari dinamika politik yang bisa terjadi pada siapa saja.
Pernyataan Hasan muncul di tengah perhatian publik terhadap rangkaian perombakan kabinet yang terjadi dalam pemerintahan. Dalam sistem presidensial, reshuffle merupakan kewenangan presiden untuk mengevaluasi dan menyusun kembali komposisi kabinet sesuai kebutuhan pemerintahan. Pergantian pejabat kabinet juga kerap menjadi bagian dari upaya penyesuaian kebijakan maupun peningkatan kinerja pemerintahan.
Dengan mencontohkan pengalaman Prabowo dan Anwar, Hasan menegaskan bahwa perubahan posisi dalam pemerintahan tidak selalu identik dengan berakhirnya pengaruh politik seseorang. Menurutnya, sejarah menunjukkan sejumlah tokoh justru mampu kembali mendapatkan kepercayaan publik setelah melewati masa-masa sulit dalam karier politik mereka. (RHU)