JAKARTA, AFU.ID — Perombakan Kabinet Merah Putih yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis belum langsung mendapat respons positif dari pasar keuangan. Alih-alih menguat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup melemah lebih dari 1 persen, sementara nilai tukar rupiah juga berada dalam tekanan. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan ekonomi setelah masuknya sejumlah figur baru ke kabinet.
Perdagangan IHSG ditutup turun 61,64 poin atau 1,02 persen ke level 6.009. Sepanjang perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh level 5.973 sebelum kembali bergerak di atas level psikologis 6.000. Pelemahan terjadi di tengah pengumuman reshuffle yang melibatkan sejumlah posisi strategis, mulai dari kementerian koordinator hingga kementerian teknis.
Perubahan kabinet tersebut mencakup pelantikan Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang tetap merangkap jabatan sebagai Menteri ESDM. Selain itu, Presiden juga melantik Arrmanatha Christiawan Nasir sebagai Menteri Luar Negeri, Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian, serta sejumlah pejabat lainnya dalam restrukturisasi kabinet terbaru.
Di sektor ekonomi, perhatian pasar juga tertuju pada masuknya dua figur baru ke jajaran pimpinan Kementerian Keuangan, yakni an dan an sebagai Wakil Menteri Keuangan. Keduanya dikenal memiliki latar belakang kuat di bidang ekonomi, moneter, dan fiskal. Namun masuknya figur baru tersebut belum cukup menghilangkan kehati-hatian pelaku pasar dalam jangka pendek.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai reshuffle kabinet menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar. Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta mengatakan investor masih mencermati arah kebijakan pemerintah setelah perubahan susunan kabinet. "Pelaku pasar perlu memperhatikan sejumlah kebijakan, terutama yang berkaitan dengan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli masyarakat, serta koordinasi antarkementerian dan dengan Bank Indonesia," ujar Nafan Aji Gusta, Jumat (2/10/2026).
Menurut Nafan, pelemahan pasar tidak sepenuhnya disebabkan oleh reshuffle. Faktor lain seperti tekanan jual investor asing, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury yield), serta ketidakpastian global juga ikut memengaruhi pergerakan IHSG dan rupiah. Namun pergantian sejumlah posisi penting di kabinet tetap menjadi faktor yang diperhitungkan investor dalam membaca arah kebijakan pemerintah ke depan.
Pandangan serupa disampaikan Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto. Ia menyebut reshuffle akan dibaca pasar dari dua sisi sekaligus. Dalam jangka pendek, perubahan kabinet berpotensi meningkatkan ketidakpastian karena investor memerlukan waktu untuk menilai figur-figur baru dan kebijakan yang akan mereka jalankan. "Respons awal pasar bisa cukup volatil," kata Rully Wisnubroto.
Selain pasar saham, nilai tukar rupiah juga berada di bawah tekanan. Sejumlah analis mengaitkan pelemahan tersebut dengan kombinasi faktor global dan domestik, termasuk sikap investor yang cenderung mengurangi risiko (risk-off) setelah reshuffle diumumkan. Kondisi itu membuat pasar valuta asing bergerak lebih konservatif dibanding ekspektasi sebagian pelaku pasar yang sebelumnya berharap penyegaran kabinet dapat langsung memicu optimisme.
Bagi pemerintah, reshuffle dilakukan untuk memperkuat akselerasi program hilirisasi, energi, fiskal, dan industri nasional. Namun bagi investor, pergantian nama dalam kabinet bukan satu-satunya pertimbangan. Pasar kini menunggu bagaimana jajaran baru tersebut menerjemahkan kebijakan ke dalam langkah konkret. Dengan kata lain, setelah pelantikan selesai dan sorotan politik mereda, pekerjaan sebenarnya baru dimulai: meyakinkan pasar bahwa susunan kabinet baru mampu menghadirkan kepastian arah ekonomi Indonesia. (RHU)