JAKARTA, AFU.ID — Kesunyian wilayah Menteng, Jakarta Pusat, pecah saat deru mesin truk militer dan bus umum yang mengangkut ratusan pasukan bersenjata mengepung kediaman para perwira tinggi angkatan darat. Operasi penculikan taktis bersandi Pasukan Pasopati tersebut bergerak serentak dari kawasan Lubang Buaya tepat pada pukul 03.30 WIB dini hari. Berbekal seragam Resimen Cakrabirawa, kelompok penyerbu memutus kabel telepon lingkungan dan membangun barikade jalan sebelum mendobrak masuk pintu rumah target secara paksa.
Rentetan tembakan senjata otomatis di beberapa titik lokasi langsung menandai dimulainya salah satu tragedi domestik paling mematikan dalam sejarah pertahanan nasional. Rentetan tembakan brutal secara membabi buta salah satunya menerjang kediaman Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani di Jalan Lembang. Korban yang terbangun sempat terlibat ketegangan fisik dan menampar seorang prajurit karena menolak perintah menghadap Istana sebelum berganti pakaian dinas.
Pintu kaca yang ditutup rapat langsung ditembak paksa menggunakan senapan otomatis Thomson hingga mengakibatkan sang jenderal gugur seketika di tempat akibat terjangan peluru. Rombongan pasukan lain segera menyeret jasad bersimbah darah tersebut ke atas bak truk militer sebelum bergerak mundur meninggalkan lokasi. Secara paralel, gelombang penyerbuan berskala besar sekelompok tentara bersenjata juga merusak gerbang kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar.
Target utama berhasil meloloskan diri dari kepungan maut setelah melompati pagar samping menuju halaman Kedutaan Besar Irak. Namun, kepungan gelap tersebut mengorbankan putri bungsu Ade Irma Suryani yang tertembak di bagian punggung serta ajudan Lettu Pierre Tendean yang ditangkap paksa. Sementara itu, Mayjen M.T. Haryono gugur di dalam kamarnya setelah berupaya merebut senjata pelaku dalam kondisi lampu rumah yang sengaja dimatikan. "Taktis pengepungan dan eksekusi akhir seluruh korban dipusatkan di dalam satu kawasan sumur tua," tulis dokumen kronologi sejarah pertahanan negara mengenai titik evakuasi di Lubang Buaya.
Di area perkebunan karet sedalam 12 meter tersebut, para perwira yang masih hidup kembali diinterogasi secara paksa sebelum jasad mereka ditimbun dedaunan kering. Proses pembersihan birokrasi militer dari unsur radikal pascatragedi ini menjadi momentum nasional dalam meneguhkan kembali dasar negara. Publik kini terus memperingati peristiwa kelam 1 Oktober ini agar komitmen terhadap penegakan hukum tata negara tetap berdiri kokoh. (RHU)