Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Batam Blackout, Warga Mulai Kaitkan Pemadaman Listrik dan Krisis Air dengan Proyek Data Center
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Pemadaman listrik yang melanda Batam, Bintan, dan Tanjungpinang sejak 12 Oktober 2026 mengakibatkan gangguan distribusi air bersih, akses internet, dan kemacetan lalu lintas, dengan sekitar 90 persen wilayah Batam terdampak. Warga mengaitkan masalah ini dengan rencana pengembangan pusat data di Batam, yang dipertanyakan terkait kesiapan infrastruktur mengingat kondisi pemadaman yang terjadi. Meskipun BP Batam menyatakan bahwa sumber kebutuhan air untuk pusat data dan permukiman warga berasal dari sumber berbeda, kritik dari masyarakat tetap muncul, menuntut perhatian lebih terhadap infrastruktur yang ada.
Arsip - Sumatera gelap gulita akibat pemadaman listrik total, Jumat (22/5/2026). (Dok. Istimewa)
JAKARTA, AFU.ID— Pemadaman listrik berskala luas melanda Batam, Bintan, dan Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sejak Senin (12/10/2026) sekitar pukul 06.30 WIB. Gangguan tersebut menghambat distribusi air bersih, mengganggu akses internet, dan memicu kemacetan akibat lampu lalu lintas yang tidak berfungsi. Hingga Senin sore, penyebab pasti blackout belum diumumkan dan proses pemulihan jaringan masih berlangsung.
Manager Komunikasi dan Hubungan Masyarakat PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama, mengatakan tim teknis masih menyelidiki sumber gangguan dan memprioritaskan pemulihan listrik. Sekitar 90 persen wilayah Batam dilaporkan terdampak, tetapi dugaan gangguan pada gardu transmisi belum dikonfirmasi sebagai penyebab pasti. “Untuk penyebab gangguan kami belum tahu, untuk saat ini kami prioritaskan recovery sistem dulu, dan penormalan listrik seluruh jaringan,” kata Yoga.
Dampak pemadaman turut dirasakan warga yang kesulitan bekerja, belajar, dan berkomunikasi karena akses internet terganggu. Sejumlah warga mendatangi mal untuk mengisi daya telepon genggam dan laptop, seperti diceritakan akun @TS_Frima di X, “Yang ada kerjaan atau tugas sampai duduk di lantai mal buka laptop, nyari colokan di tiang-tiang. Kafe penuh.” Pemadaman ini turut memicu kritik warganet terhadap kesiapan infrastruktur Batam di tengah rencana pengembangan pusat data (data center). “Pemerintah Batam nih gimana sih woi udah air mati, listrik mati blackout pula. Gitu malah ngide bikin data center,” tulis akun @EtherealYNGR, yang mempertanyakan dampaknya terhadap industri, rumah sakit, dan sektor keuangan. Akun @TJhoras juga menyoroti kesiapan fasilitas tersebut dengan menulis, “Nah gmn data center, udah siap belum di Batam? Kalo masih begini mending tunda dulu dah”.
Data center adalah fasilitas yang menampung server dan sistem jaringan untuk menyimpan, mengolah, dan mendistribusikan data digital. Infrastruktur ini mendukung layanan komputasi awan (cloud computing), aplikasi bisnis, hingga kecerdasan buatan (AI), dengan kebutuhan utama berupa pasokan listrik stabil, sistem pendingin, dan konektivitas jaringan yang andal. Batam dinilai memiliki potensi untuk pengembangan pusat data karena lokasinya dekat dengan Singapura dan Johor, Malaysia, dan didukung infrastruktur kabel bawah laut.
Pengembangan pusat data di Batam menjadi sorotan setelah sekitar 300 warga memprotes terhentinya pasokan air perpipaan selama berbulan-bulan di kawasan Nongsa Digital Park pada Senin (5/10/2026). Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Sambau, Andi Lalang, mengatakan pasokan air di wilayahnya yang semula hanya mengalir beberapa jam sehari kini terputus sepenuhnya. Warga menduga pembangunan pusat data berkaitan dengan persoalan tersebut, tetapi BP Batam membantahnya.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menjelaskan kebutuhan air pusat data dan permukiman warga berasal dari sumber berbeda. Menurut dia, warga Nongsa mengandalkan Waduk Nongsa yang debit airnya menurun selama kemarau, sedangkan kawasan pusat data mendapat pasokan melalui jaringan khusus dari Waduk Duriangkang. (RAI)