JAKARTA, AFU.ID — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) terhadap dunia penerbangan nasional semakin terlihat nyata di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports mencatat setidaknya 764 pergerakan pesawat penerbangan yang terjadwal di terminal bandara tersibuk di Indonesia ini mengalami gangguan akibat sebaran abu vulkanik.
Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, menjelaskan angka ratusan penerbangan terdampak tersebut bukan berasal dari satu jenis gangguan saja, melainkan gabungan dari berbagai bentuk hambatan operasional yang terjadi.
"Berdasarkan data penerbangan terbaru, terdapat 764 penerbangan terdampak, akumulasi dari pembatalan penerbangan, keterlambatan penerbangan, pengalihan pendaratan penerbangan ke bandara lain, dan sebagainya," ungkapnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Dari total angka tersebut, rinciannya terdiri dari 570 penerbangan rute domestik, 185 penerbangan rute internasional, ditambah sembilan penerbangan khusus kargo yang turut terkena imbas. Penyebab utama gangguan ini adalah keputusan penutupan sementara operasional Bandara Soekarno-Hatta yang masih berlaku hingga pukul 17.30 WIB pada 6 September 2026.
Penutupan tersebut diberlakukan menyusul terdeteksinya indikasi sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, sebagaimana tertuang dalam NOTAM terbaru yang diterbitkan Airnav Indonesia. Status Aerodrome Closed atau penutupan bandara ini sendiri diambil sebagai langkah mitigasi, dengan pertimbangan utama pada faktor keselamatan penerbangan.
Untuk merespons kebutuhan penumpang yang terdampak, pihak bandara telah mengaktifkan skema Service Recovery Action (SRA) sebagai bentuk tanggung jawab layanan. Melalui skema ini, penumpang yang terdampak mendapatkan fasilitas makanan dan minuman ringan secara gratis. Tak hanya itu, pihak bandara juga menyiapkan armada bus di setiap terminal, guna memfasilitasi perpindahan penumpang menuju hotel-hotel yang telah dikoordinasikan bersama pihak maskapai.
Sejumlah fasilitas tambahan turut disediakan di area terminal untuk menampung penumpang terdampak. Salah satunya adalah Employee Lounge, yang untuk sementara waktu difungsikan sebagai ruang istirahat tambahan bagi penumpang, sehingga mereka memiliki tempat yang lebih layak dan nyaman selama masa penantian.
Selain itu, sebuah posko khusus juga telah didirikan di Terminal 1B, dengan tujuan memperkuat koordinasi penanganan kondisi darurat secara langsung di lapangan. Para maskapai penerbangan turut membuka meja layanan informasi di masing-masing terminal, guna memudahkan penanganan bagi setiap penumpang yang membutuhkan bantuan.
Dari aspek layanan komersial, pihak manajemen bandara juga telah berkoordinasi dengan seluruh tenant atau penyewa gerai yang beroperasi di area terminal, agar layanan mereka tetap bisa diakses selama 24 jam penuh. "Langkah pemulihan operasional akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi abu vulkanik karena keselamatan penumpang adalah prioritas utama kami," pungkasnya. (NAD)