JAKARTA, AFU.ID — Tokoh ulama asal Indonesia yang menjabat sebagai Imam sekaligus Direktur Jamaica Muslim Center di Queens, New York, Shamsi Ali, menggelar dialog dadakan dengan seorang pengunjuk rasa kelompok pendukung kemerdekaan Papua di luar markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, baru-baru ini. Imam Shamsi Ali yang baru saja selesai melaksanakan ibadah salat Jumat dan menjadi khatib, tampak berjalan-jalan di sekitar Second Avenue, ketika dia melihat seorang demonstran pro-separatis Papua tampak tengah berorasi di depan sekelompok warga.
Mendapati demonstran yang membawa atribut Papua Merdeka, termasuk bendera Bintang Kejora dan sejumlah poster bernada kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto, Shamsi Ali menghampiri salah seorang demonstran untuk mempertanyakan landasan moral di balik aksi penembakan terhadap warga sipil tak berdosa di Papua yang terus berulang dilakukan oleh kelompok bersenjata.
Melalui unggahan resmi di akun media sosialnya pada Minggu (27/9/2026), Shamsi Ali mengungkapkan landasan dialog yang digunakan, untuk meng-counter isu yang dipakai kelompok separatis, terkait eksekusi terhadap warga sipil Papua. "Kemarin setelah khutbah di PBB saya melewati seorang pandemo Papua (anti Indonesia)... kesal juga baru-baru ini seorang warga tak berdosa ditembak mati di Papua. Alasannya semua warga Indonesia melakukan fungsi multi kerjasama dengan TNI," tulis Shamsi Ali.
Dalam dialog langsung tersebut, Shamsi Ali mendesak sang demonstran untuk menunjukkan bukti konkret yang melandasi tuduhan massal bahwa seluruh warga sipil Indonesia di Papua menjalankan fungsi intelijen atau kerja sama militer dengan TNI. Namun, sang pendemo tidak mampu menyajikan bukti ilmiah maupun dokumen valid di lapangan.
"Saya tanya bukti. Jawabannya tonton YouTube," lanjut Shamsi Ali menirukan respons sang demonstran yang dinilainya amat dangkal. Tak dapat membendung rasa keprihatinannya atas jatuhnya korban jiwa di masyarakat bawah, ulama asal Nusantara ini mengecam keras cara-cara kekerasan kelompok separatis. "Mereka kejam dan lebih jahat dari binatang!" tegasnya.
Perdebatan di New York tersebut terjadi tak lama setelah peristiwa tewasnya Aris Sanda, seorang warga sipil asal Toraja, Sulawesi Selatan, yang bekerja sebagai sopir lajuran atau travel di rute Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Pada 15 September 2026, kendaraan yang dikemudikan Aris dihentikan secara paksa oleh kelompok bersenjata. Kepala Penerangan Koops TNI Habema mengonfirmasi kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa rombongan kendaraan lajuran dihentikan oleh sekelompok orang bersenjata sebelum para pelaku melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi dan penumpang.
Usai pemeriksaan sepihak, para penumpang diintimidasi dan diperintahkan kembali ke arah Wamena, sementara Aris Sanda diculik menuju kawasan Danau Habema. Sebelum dieksekusi secara keji, sebuah rekaman video memperlihatkan Aris berada di bawah todongan senjata api laras panjang dan panah. Ia dipaksa membaca narasi dukungan terhadap kemerdekaan Papua sembari memegang bendera Bintang Kejora.
Tim aparat TNI yang melakukan penyisiran kemudian menemukan jasad Aris Sanda tewas mengenaskan di dalam kendaraannya yang telah dibakar. Skandal kekerasan terhadap warga sipil inilah yang memicu reaksi Shamsi Ali untuk berani adu fakta dengan pendukung separatis di New York, sekaligus membongkar kekejaman kelompok bersenjata di mata masyarakat internasional. (MAR)