JAKARTA, AFU.ID — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali menunjukkan penguatan tajam di pasar regional. Kenaikan ini terjadi ketika pasar mulai memperhitungkan ancaman El Nino terhadap produksi sawit Indonesia dan Malaysia, dua negara yang menjadi pusat pasokan minyak sawit dunia. Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO mencatat reli selama lima sesi perdagangan berturut-turut. Kontrak November 2026 pada penutupan Jumat (21/8/2026) naik 57 ringgit Malaysia menjadi 5.018 ringgit per ton. Kontrak Desember bahkan berada di 5.077 ringgit per ton, sementara kontrak Januari 2027 mencapai 5.118 ringgit per ton.
Kinerja tersebut membawa harga CPO ke level tertinggi sekitar 20 bulan. Dalam sepekan, harga CPO melonjak sekitar 6,54 persen dan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 24 pekan. Reli juga menjadi penguatan mingguan ketiga secara beruntun. Salah satu pemicu utama penguatan adalah kekhawatiran terhadap pasokan akibat perubahan cuaca. El Nino yang semakin kuat diperkirakan membawa kondisi lebih panas dan kering ke sejumlah wilayah Asia Tenggara. Reuters melaporkan pola El Nino 2026-2027 berpotensi menjadi sangat kuat, sehingga meningkatkan risiko terhadap berbagai komoditas tropis, termasuk sawit.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada awal Agustus mencatat indeks Nino3.4 mencapai +2,77, naik dari +2,20 pada Juli. Angka tersebut menunjukkan kondisi El Nino dengan intensitas sangat kuat. BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau Indonesia berlangsung pada Juli-September 2026, dengan Agustus menjadi periode puncak di wilayah yang paling luas. Pasar sawit sangat sensitif terhadap ancaman tersebut karena produksi buah sawit membutuhkan pasokan air yang memadai. Kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu perkembangan tandan buah segar dan pada akhirnya menekan produksi minyak sawit. Dampaknya terhadap produksi tidak selalu terjadi seketika, tetapi pasar biasanya bergerak lebih dahulu dengan memperhitungkan potensi gangguan pasokan di masa depan.
Hong Leong Investment Bank sebelumnya menaikkan asumsi harga rata-rata CPO 2026 menjadi 4.450 ringgit per ton dari 4.350 ringgit. Bank tersebut menyebut meningkatnya kemungkinan El Nino dan penerapan mandat biodiesel B50 Indonesia sebagai faktor yang mendukung kenaikan proyeksi. Efek El Nino terhadap hasil sawit dapat muncul dengan jeda waktu, tetapi harga komoditas dapat merespons lebih cepat karena pasar bersifat forward-looking. Dari dalam negeri, faktor lain yang memperkuat prospek CPO adalah program biodiesel B50 Indonesia. Kebijakan tersebut meningkatkan kebutuhan minyak sawit untuk bahan bakar domestik sehingga berpotensi mengurangi volume CPO yang tersedia untuk pasar ekspor.
Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan permintaan sawit Indonesia untuk biodiesel B50 akan semakin kuat setelah masa transisi untuk menghabiskan stok biodiesel B40 berakhir pada September. Kondisi tersebut dipandang dapat memperketat neraca pasokan sawit dunia. Menariknya, reli harga terjadi meskipun indikator ekspor Malaysia belum sepenuhnya memberikan sinyal positif. Data AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor produk sawit Malaysia pada 1-20 Agustus diperkirakan turun 5,5 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Data tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi membatasi ruang kenaikan harga lebih lanjut.
Di sisi lain, pasokan Malaysia justru masih relatif tinggi. Stok minyak sawit Malaysia pada akhir Juli mencapai sekitar 2,62 juta ton. Kondisi stok yang besar dapat menjadi penahan bagi kenaikan harga apabila permintaan global tidak tumbuh secepat perkiraan. Namun, pasar saat ini tampaknya lebih memberikan bobot pada potensi gangguan pasokan ke depan. Selain ancaman El Nino, kenaikan harga minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai turut memberikan dukungan terhadap CPO. Ketika harga minyak sawit tetap kompetitif dibandingkan minyak nabati lain, permintaan dapat bergeser dan menjaga daya tarik CPO di pasar global.
Bagi Indonesia, situasi tersebut menciptakan dua sisi mata uang. Kenaikan harga CPO berpotensi meningkatkan penerimaan industri sawit dan memperkuat nilai komoditas ekspor. Namun, apabila produksi terganggu akibat kekeringan sementara konsumsi domestik meningkat karena B50, pasokan yang tersedia untuk ekspor dapat semakin terbatas. MPOC memperkirakan harga CPO masih berpeluang bertahan di atas 4.600 ringgit per ton pada September. Kontrak berjangka 2027 bahkan telah diperdagangkan di atas 5.000 ringgit per ton pada pertengahan Agustus, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak El Nino terhadap pasokan jangka menengah. (EER)