JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Indonesia berencana mengimpor minyak mentah dan LPG dari Rusia di tengah ketegangan politik di Selat Hormuz yang mengakibatkan pasokan minyak dunia terganggu. Sebanyak 20 persen aktivitas minyak mentah dan 25 persen LPG berasal dari selat yang sekarang diblokade militer Amerika Serikat.
Sementara itu, Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan minyak mentah harian sebesar 1,5 juta barrel. Sekitar 30 persen pasokan minyak tersebut dapat diproduksi di dalam negeri, selebihnya masih impor.
Daya tampung tangki timbun BBM nasional saat ini dilaporkan mencapai kurang lebih 25 hari. Kenyataan ini mengharuskan pemerintah mengambil langkah strategis, salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber minyak mentah dari Rusia.
Minyak mentah dari Rusia disebut lebih murah dan stoknya melimpah. Tetapi, itu bukan tanpa tantangan. Minyak mentah dari Rusia punya karakteristik berbeda dengan karakteristik minyak mentah dari Timur Tengah yang sudah terbukti dapat diolah di kilang dalam negeri.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyampaikan, kilang yang dimiliki Pertamina mampu mengolah minyak mentah atau crude yang berasal dari Rusia.
“Untuk crude dari Rusia, Refinery Unit/kilang yang dimiliki Pertamina mampu dan dapat mengolahnya untuk menjadi produk olahan dari crude tersebut,” ujar Roberth, mengutip Antara, Selasa (15/4/2025).
Menurut dia, Pertamina memilih Rusia sebagai negara tujuan pembelian minyak mentah itu sudah sesuai dengan arahan pemerintah sebagai upaya menyediakan energi untuk kebutuhan.
“Turut berperan dalam penyediaan energi di dalam negeri dan pendistribusiannya mulai dari pengolahan hingga menjadi produk,” katanya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melakukan negosiasi pembelian minyak mentah dan LPG dari Rusia dalam pertemuannya dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Rusia, Selasa.
Kerja sama antara Indonesia dengan Rusia mencakup pengembangan kilang minyak, penguatan perdagangan minyak, serta peningkatan pemanfaatan teknologi energi.
“Alhamdulillah apa yang sudah menjadi kesepakatan itu, kita mendapatkan hasil yang cukup baik di mana kita bisa mendapatkan cadangan crude (minyak mentah) kita untuk kita nambah. Di samping itu juga kita akan bisa mendapatkan LPG,” ujar Bahlil.
Ketersediaan minyak dalam negeri akibat konflik antara Iran dan Amerika di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada ketahanan energi nasional, tetapi juga akan berdampak pada posisi Indonesia di mata dunia.