JAKARTA, AFU.ID — Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur bertambah menjadi 100 orang hingga Senin (24/8/2026). Angka tersebut meningkat sembilan orang dibandingkan data pada Minggu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga mencatat 1.603 orang terluka dan 180.327 warga masih mengungsi. “Per hari ini yang meninggal dunia ada 100, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers secara daring, Senin.
Suharyanto mengatakan tambahan korban meninggal berasal dari pasien luka berat yang sebelumnya menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan maupun rumah sakit darurat. Kondisi mereka kemudian memburuk dan tidak dapat diselamatkan. Jumlah korban meninggal yang pada dua hari pertama tercatat 48 orang terus bertambah menjadi 100 orang.
Dalam pembaruan BNPB yang dimuat Afu.id pada 22 Agustus 2026, jumlah korban meninggal tercatat 87 orang, korban luka 1.298 orang, dan pengungsi 150.576 jiwa. Dibandingkan pembaruan tersebut, terdapat tambahan 13 korban meninggal, 305 korban luka, dan 29.751 pengungsi. Perubahan data berlangsung seiring pendataan lapangan dan perkembangan kondisi pasien yang dirawat.
BNPB juga mencatat sedikitnya 73.818 rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Data kerusakan tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah setelah proses pemeriksaan serta verifikasi di wilayah terdampak selesai. Pemerintah masih memusatkan penanganan pada pelayanan kesehatan, kebutuhan pengungsi, dan pendataan kerusakan.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 6.409 gempa susulan hingga Senin pukul 05.00 WIB. Sebanyak 139 gempa susulan dirasakan masyarakat, sedangkan 33 kejadian memiliki kekuatan di atas magnitudo 5. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2 dan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat minggu. Aktivitas seismik yang belum mereda membuat sebagian warga tetap bertahan di luar rumah, termasuk mereka yang tempat tinggalnya tidak rusak atau hanya mengalami kerusakan ringan. Masyarakat diminta menghindari bangunan yang telah rusak dan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan gempa. (RHU)