JAKARTA, AFU.ID — Sikap tone deaf alias tak peduli kembali ditunjukkan pemerintah pusat atas nasib warga di daerah yang tengah berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Kali ini, hal tersebut terungkap dari rekaman pembicaraan telepon yang bocor ke publik antara Wakil Bupati Kotawaringin Timur Irawati dengan Staf Ahli Menteri Kehutanan Fahrizal Fitri. Dalam rekaman tersebut, terdengar Irawati menumpahkan kekecewaannya karena Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni batal meninjau karhutla di Kotim.
Irawati bahkan terdengar menangis dalam rekaman sambungan telepon yang terjadi pada Rabu (14/10/2026) itu. Ia kecewa berat lantaran Raja Juli memilij langsung bertolak ke Pangkalan Bun. Diketahui, Menhut menginap di Hotel Aquarius Sampit dan dijadwalkan meninjau lokasi karhutla bersama Forkopimda Kotim pada pukul 08.05 sampai 09.30 WIB sebelum ke Pangkalan Bun. Sekitar pukul 21.00 WIB Selasa malam, Pemkab menerima informasi agenda Kotim batal dan rombongan langsung menuju Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.
"Kami cukup kaget dan kecewa karena semuanya sudah dipersiapkan. Harapan kami, melalui kunjungan itu, kami bisa berdiskusi untuk mencari solusi bersama, termasuk apa yang dibutuhkan pemerintah daerah dan bentuk dukungan yang bisa diberikan pemerintah pusat dalam penanganan karhutla," kata Diana dari Pemkab Kotim.
Dalam kesempatan itu, pihak Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan relawan sebenarnya sudah menunggu di Jalan Jaksa. Jamuan makan disiapkan di Restoran Phoenix. Sayang rombongan sang menteri tidak jadi singgah. Percakapan Irawati-Fahrizal berlangsung dengan suara Irawati bergetar. "Pak, masyarakat ulun kasihan, kada diherani (tidak dihiraukan) Pak," ujar Irawati. "Kemarin kami menunggu di pinggir Jalan Jaksa. Tapi rombongan Bapak tidak singgah. Terus kami makan sudah siapkan," katanya.
"Tapi beliau tidak mau makan dengan kami malah pindah ke resto lain," ujarnya. Irawati menegaskan persoalannya bukan dirinya tidak ditemui, melainkan relawan dan warga. "Kami tidak apa-apa tidak ditemui, tapi relawan kami, masyarakat kami tolong diperhatikan, Pak. Tiga orang yang meninggal relawan kami, Pak," katanya.
"Kami juga manusia yang perlu diperhatikan. Tiga orang yang meninggal relawan kami, Pak! Kami sudah mengorbankan relawan kami, api terus meluas dan tim masih berjibaku memadamkan api sampai jam dua malam," katanya. "Sampaikan ke beliau, Pak. Kami perlu bantuan, perlu bantuan, karena memang tidak bisa lagi. Kami sudah mengorbankan relawan kami, api terus meluas karena memang keadaan di lapangan luar biasa, Pak," jelas Irawati. "Tadi malam kami sampai jam 2 masih berjibaku dengan api, Pak," tambahnya.
Irawati menaruh harapan pada Fahrizal sebagai putra daerah yang pernah menjadi Sekda Kotim. "Banyak ulun bersyukur ada staf ahli Kementerian LHK dari Kalimantan Tengah, tentunya melalui pian. Pian lagi mana tahu perasaan kami, pian tahu karena pian orang Kalimantan Tengah. Pernah juga pian menjadi Sekda di Kotim," kata Irawati. "Kami memang benar-benar capek, Pak. Sudah capek mengurus ini, tapi mau bagaimana karena ini demi masyarakat. Relawan kami juga manusia, Pak, yang memang harus dilindungi juga. Masyarakat kami juga harus dilindungi," katanya lagi.
Fahrizal menjawab akan meneruskan pesan itu kepada menteri. Ia mengaku tidak menerima informasi soal penantian Forkopimda di Jalan Jaksa maupun kabar tiga relawan gugur. Ia menjelaskan rombongan berada di Pangkalan Bun untuk rapat koordinasi dan Menhut harus kembali ke Palangka Raya untuk agenda bersama Menteri Koordinator pada Jumat (16/10/2026). "Kena ulun sampaikan ke beliau, lah," ujar Fahrizal. "Nanti saya sampaikan. Kami kan tetap harus balik lewat Banjarmasin, nanti kami singgah di Sampit," katanya. Janji singgah itu belum ada kepastian waktunya.
Irawati menyebut kunjungan bukan batal melainkan diundur karena rakor Pangkalan Bun yang tidak bisa ditunda. "Saya sudah dihubungi oleh staf ahli Kemenhut, Bapak Fahrizal Fitri, yang dulunya Sekda Provinsi Kalimantan Tengah. Beliau menyampaikan bukan batal, tetapi mengundur karena ada kegiatan rakor yang tidak bisa ditunda di Pangkalan Bun," kata Irawati.
Seperti diketahui, karhutla Kotim disebut sudah berlangsung tiga bulan tanpa tanda mereda. Irawati menyebut tiga relawan gugur saat bertugas memadamkan api. Satu media lokal memuat data sejumlah 2.137 hektare lahan hangus dan 44.251 titik panas per 11 Oktober 2026. Saat Raja Juli datang, upaya pemadaman masih terus berlangsung sampai dini hari dengan petugas kelelahan dan api terus meluas. Lantaran itulah, Irawati meminta bantuan pusat dan perlindungan bagi relawan serta warga.
Sikap Raja Juli ini lantas memantik kemarahan pimpinan daerah lainnya. Ketua DPRD Kotim Rimbun menilai daerah tidak dianggap pusat. Wakil Ketua I DPRD Juliansyah khawatir laporan yang sampai ke pusat tidak sesuai fakta jika menteri tak meninjau langsung. Sementara itu, Aliansi Pemuda Kalimantan Peduli Kemanusiaan mendesak status bencana nasional. Anggota dewan Subani menegur agar menteri tidak datang sekadar untuk swafoto. (MAR)