AFU.id

KKP Bidik 90% Nelayan Tradisional, RAN-PPSK Dituntut Beri Manfaat Nyata untuk Perikanan Skala Kecil

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

KKP Bidik 90% Nelayan Tradisional, RAN-PPSK Dituntut Beri Manfaat Nyata untuk Perikanan Skala Kecil
Kapal nelayan perikanan skala kecil. (Foto: KKP RI)

Perikanan Skala Kecil Hadapi Persoalan Hak dan Subsidi

Di sisi lain, Dani Setiawan selaku Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) meminta RAN-PPSK menjadi instrumen yang tegas untuk memenuhi hak-hak nelayan skala kecil. Ia menyoroti dorongan World Trade Organization (WTO) untuk membatasi subsidi perikanan yang berkontribusi terhadap penangkapan ikan berlebih. Menurutnya, pembatasan perlu melihat dampak terhadap ruang kebijakan negara dalam memberikan dukungan kepada nelayan kecil. “Kesepakatan WTO tidak boleh membatasi ruang kebijakan negara untuk terus mengalokasikan subsidi bagi nelayan skala kecil,” tuturnya.

Selain advokasi di tingkat nasional, Dani Setiawan menginisiasi Southeast Asia Small-scale Fishers Network (SEAFNET) yang mempertemukan organisasi nelayan skala kecil dan para mitranya. Jejaring itu untuk memperkuat advokasi dan hak-hak nelayan kecil di regional Asia Tenggara. Langkah itu lantas memperlihatkan, agenda perlindungan nelayan juga berkembang melalui jejaring organisasi di luar mekanisme pemerintah.

Sementara itu, Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan penguatan sektor tersebut sangat penting karena Indonesia mempunyai sekitar 90% nelayan tradisional. Ia juga memandang, nelayan skala kecil berkontribusi sekitar 90% terhadap produksi perikanan tangkap nasional. Kementeriannya lantas menempatkan pembangunan KNMP sebagai salah satu bentuk penguatan kawasan nelayan yang terintegrasi untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat.

Dengan proporsi nelayan tradisional mencapai sekitar 90%, penentu keberhasilan RAN-PPSK pada akhirnya harus melihat dampak di tingkat nelayan. Lima prioritas yang telah ditetapkan perlu diterjemahkan menjadi akses sumber daya, keselamatan, pembiayaan, data, serta nilai ekonomi yang lebih baik. Tanpa perubahan pada aspek-aspek itu, perluasan kebijakan berisiko berhenti pada kerangka administratif tanpa menjawab kebutuhan utama perikanan skala kecil. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi