AFU.ID, JAKARTA - Riuh kabar itu beredar cepat di ruang-ruang digital, menyelinap ke percakapan publik dengan nada cemas: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disebut-sebut hanya cukup untuk dua minggu. Namun di balik kegaduhan itu, pemerintah berdiri dengan satu kalimat tegas—isu tersebut keliru.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyanggah keras narasi yang terlanjur viral itu. Di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (6/4/2026), ia menepisnya dengan nada lugas, seolah ingin memutus rantai kekhawatiran yang telanjur menjalar.
“Tidak perlu khawatir. Apalagi sampai bilang dua minggu uang negara habis—itu salah besar,” ujarnya, menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak berdasar.
Di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya reda—harga minyak yang fluktuatif, tensi geopolitik yang naik-turun—pemerintah justru mengklaim masih memiliki bantalan fiskal yang kuat. Angka yang disebut bukan kecil: Rp420 triliun. Dana ini berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), semacam cadangan yang disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk.
Bagi pemerintah, angka itu bukan sekadar statistik di atas kertas. Ia adalah ruang napas—penyangga ketika ketidakpastian global berubah menjadi tekanan nyata. Bahkan ketika kemungkinan ekstrem dibayangkan, seperti harga minyak dunia menembus 150 dolar AS per barel, pemerintah mengaku masih punya ruang untuk bermanuver.
Purbaya menyiratkan kehati-hatian dalam setiap langkah fiskal. Bukan sekadar optimisme, tetapi juga antisipasi. “Kita jaga stabilitas, kita siapkan skenario,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan.
Di balik pernyataan itu, terselip realitas yang lebih luas: APBN bukan hanya soal angka, tetapi tentang kepercayaan. Ketika rumor menyebut negara kehabisan napas dalam hitungan minggu, yang dipertaruhkan bukan hanya kas negara, melainkan keyakinan publik terhadap arah ekonomi.
Pemerintah, setidaknya melalui pernyataan ini, berusaha menutup celah kepanikan. Menarik garis tegas antara fakta dan spekulasi. Di tengah arus informasi yang kerap berisik, satu hal ingin ditegaskan: kas negara belum di tepi jurang.
Dan bagi publik, pesan itu sederhana—tak perlu panik, tapi tetap waspada pada realitas ekonomi yang terus bergerak. (*)