JAKARTA, AFU.ID — Kehadiran anggota DPD RI asal Bali Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa di ajang Miss Equality World 2026 di MGI Convention Center, Bangkok, Thailand menuai kritik dari masyarakat. Tak hanya itu, seorang anggota TNI berpangkat sersan dua yang mendampingi Arya juga ikut dicari oleh pihak Mabes TNI.
Potret yang beredar luas di platform X dan media sosial memperlihatkan Arya berdiri di tengah gelaran tersebut. Publik lantas mempertanyakan etika kepatutan serta legalitas penggunaan prajurit aktif sebagai pengawal pribadi pejabat dalam agenda luar negeri yang memicu perdebatan nilai di dalam negeri. Kegaduhan ini kian meruncing lantaran sosok berseragam yang terlihat mendampingi sang senator dikonfirmasi merupakan prajurit Bawah Kendali Operasi (BKO) berunsur militer dari TNI Angkatan Laut, yang kehadirannya di acara tersebut langsung memicu reaksi cepat dari Markas Besar TNI.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Muhammad Nas menegaskan, pihak TNI tidak tinggal diam dan sedang mengusut tuntas keterlibatan personelnya. Nas memastikan, peristiwa ini menjadi bahan evaluasi serius bagi internal TNI dalam menyikapi penugasan pengawalan anggota dewan.
"Terkait hal tersebut, kami sedang melakukan pengecekan dan pendalaman internal untuk memastikan identitas personel, status penugasan, serta konteks keberadaannya di Thailand," kata Nas saat dihubungi wartawan, Rabu (2/9/2026).
Di sisi lain, Arya Wedakarna secara terbuka memberikan klarifikasi di di media sosial. Politikus asal Bali itu mengklaim, perjalanannya ke Thailand murni bertindak dalam kapasitasnya sebagai tokoh budaya Bali dan mewakili lembaga Hindu, tanpa membawa nama atau jabatan resmi DPD RI.
"Kalau saya yang pasti kemarin acara yang di Thailand itu saya datang mewakili lembaga Hindu ya. Jadi sebagai tokoh Bali, jadi tidak ada kaitan sama jabatan saya di manapun," ujar Arya, dalam video klarifikasiya, dikutip Kamis (3/9/2026).
Arya menambahkan, di acara tersebut turut diputar video promosi pariwisata Bali dan ia hadir untuk menerima penghargaan budaya. "Mereka sudah membuat video yang baik ya untuk promosi Bali, alamnya, pantainya. Saya menerima penghargaan atas nama tokoh budaya Bali. Jadi ya maka dari itu kita biasa kalau di Bali menerima penghargaan dari kalangan-kalangan mana pun, ya namanya orang memberi penghargaan kan kita hargai dong seperti itu," ungkapnya.
Arya juga mengaku tidak mau mencampuri latar belakang penyelenggara acara. "Kan kita tidak ikut komentar tentang latar belakang siapa orang-orang yang memberikan penghargaan. Gitu kan, ada namanya etika kan seperti itu. Jadi buat kami ya kami mewakili masyarakat Bali yang bekerja di pariwisata," tuturnya.
Mengenai sudut pandang pariwisata, ia menggarisbawahi bahwa sektor wisata tidak boleh diskriminatif. "Tetapi, di dalam pariwisata, kita tidak boleh mendiskriminisasi seseorang. Di Bali sendiri per hari ini, klub-klub atau tempat keramaian, mereka menerima dari berbagai kalangan kok," imbuhnya.
Mengenai kehadiran pengawal berseragam militer yang terekam kamera, Arya membenarkan, prajurit TNI Angkatan Laut tersebut merupakan ajudan resmi BKO yang melekat padanya. "Ajudan saya kan memang melekat ke saya. Itu kan memang ajudan BKO (Bawah Kendali Operasi). Dan ada dua ajudan yang mendampingi saya. Mereka memang menggunakan pakaian dinas karena kan mempertimbangkan faktor keamanan ya," jelas Arya.
Arya beralasan, keputusan membawa pengawal berseragam dinas penuh ke Bangkok diambil mengingat pertimbangan keamanan atas situasi Thailand yang dinilainya rawan. "Memang pengawal pribadi, pengawal saya. Memang melekat kepada kami seperti itu dan bertugas dengan baik saja untuk mengamankan saja," tegasnya, sembari menyinggung potensi konflik kawasan dan insiden keamanan di Thailand yang membuat pengawalan fisik mutlak diperlukan. (MAR)