JAKARTA, AFU.ID - Thailand kembali memperketat keamanan di wilayah selatannya setelah rangkaian serangan yang dikaitkan dengan kelompok pemberontak bersenjata. Provinsi Narathiwat bahkan diberlakukan status darurat militer setelah serangan terhadap pos keamanan menewaskan lima personel paramiliter dan melukai enam warga sipil.
Berikut lima fakta penting mengenai pemberontakan di Thailand selatan yang hingga kini belum sepenuhnya berakhir.
1. Narathiwat diberlakukan darurat militer
Otoritas Thailand memberlakukan darurat militer di Provinsi Narathiwat setelah serangan terhadap sebuah pos keamanan di wilayah Ra-ngae pada Rabu, 22 Juli. Serangan tersebut menewaskan lima personel paramiliter dan melukai enam warga sipil. Instruksi darurat militer diterbitkan sehari setelah serangan oleh Komandan Pasukan Khusus Narathiwat, Mayjen Yod-Arwut Phuengpak.
Kebijakan itu memberikan kewenangan lebih besar kepada aparat keamanan untuk mendirikan pos pemeriksaan, menggeledah kendaraan maupun rumah yang dicurigai berkaitan dengan aktivitas pemberontak, serta menahan orang yang diduga terlibat. Personel militer juga diperbolehkan menggunakan kekuatan apabila diperlukan dan harus disesuaikan dengan tingkat ancaman. Aparatur sipil dan pejabat pemerintah yang menangani keamanan di Narathiwat kemudian bekerja di bawah komando otoritas militer.
2. Konflik berakar dari sejarah Kesultanan Patani
Pemberontakan di Thailand selatan tidak dapat dilepaskan dari sejarah wilayah Patani. Narathiwat, Yala dan Pattani merupakan bagian dari kawasan yang dahulu dikenal sebagai Kesultanan Patani, sebuah kesultanan Melayu-Muslim yang berada dalam hubungan vasal dengan Siam atau Thailand. Pada awal abad ke-20, wilayah tersebut semakin berada di bawah kendali Bangkok dan kemudian dibagi secara administratif menjadi beberapa provinsi.
Penduduknya mayoritas merupakan etnis Melayu dan beragama Islam, berbeda dengan identitas mayoritas Thailand yang beragama Buddha. International Crisis Group mencatat bahwa akar konflik berkaitan dengan resistensi nasionalis Melayu terhadap kekuasaan Siam setelah perluasan kedaulatan Siam atas Patani pada awal abad ke-20. Gerakan bersenjata separatis mulai muncul sejak dekade 1960-an, kemudian melemah pada 1990-an sebelum kembali menguat pada awal abad ke-21.
3. BRN menjadi salah satu kekuatan utama pemberontakan
Pemberontakan bersenjata modern di Thailand selatan kembali menguat sekitar 2004. Salah satu organisasi utama yang kemudian memainkan peran penting adalah Barisan Revolusi Nasional atau Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani (BRN). BRN sendiri telah berdiri sejak 1963, tetapi gerakannya mengalami perpecahan dan perkembangan selama beberapa dekade.
Menurut International Crisis Group, gerakan yang dipimpin BRN kembali menguat sejak awal 2000-an dan meningkat tajam pada 2004. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi insurgensi berkepanjangan yang melibatkan serangan terhadap aparat keamanan, fasilitas pemerintah, infrastruktur publik dan warga sipil.
4. Puluhan serangan kembali terjadi dalam satu malam
Situasi kembali memanas pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Komando Keamanan Dalam Negeri Thailand atau ISOC melaporkan sedikitnya 51 insiden di 21 distrik yang tersebar di Narathiwat, Pattani dan Yala. Serangan tersebut mencakup ledakan, pembakaran, penembakan untuk mengganggu keamanan serta aksi perusakan terhadap fasilitas pemerintah dan fasilitas publik.
Narathiwat mencatat 22 insiden, Pattani 11 insiden dan Yala 18 insiden. Dua warga sipil dilaporkan terluka di Narathiwat. Sejumlah fasilitas pemerintah, kendaraan, menara telekomunikasi dan infrastruktur lainnya menjadi sasaran. Aparat kemudian meningkatkan pengamanan dan meminta masyarakat menghindari lokasi kejadian.
5. Konflik telah berlangsung lebih dari dua dekade dan masih menjadi ancaman serius
Pemberontakan di Thailand selatan merupakan salah satu konflik bersenjata berkepanjangan di Asia Tenggara. Sejak kekerasan kembali meningkat pada 2004, ribuan orang telah tewas. Reuters melaporkan pada Agustus 2026 bahwa lebih dari 7.800 orang telah meninggal sejak 2004 akibat konflik tersebut. BRN disebut sebagai kelompok utama dalam pemberontakan di Pattani, Yala dan Narathiwat. Pemerintah Thailand juga tengah berupaya membuka kembali jalur perundingan dengan kelompok-kelompok yang terkait dengan pemberontakan, dengan Malaysia berperan sebagai fasilitator dialog sejak 2013.
Rangkaian serangan terbaru terjadi ketika Thailand tengah berupaya mencari pendekatan baru untuk menyelesaikan konflik melalui dialog, desentralisasi dan kemungkinan pengaturan pemerintahan yang lebih sesuai dengan karakteristik wilayah selatan. Dengan diberlakukannya darurat militer di Narathiwat dan meningkatnya serangan di tiga provinsi perbatasan selatan, konflik lama antara pemerintah pusat Thailand dan kelompok pemberontak Melayu-Muslim kembali menjadi persoalan keamanan utama bagi Bangkok. (EER)