JAKARTA, AFU.ID — Perhelatan ajang FIFA ASEAN Cup sudah berlalu, tetapi tensi antara Indonesia dan Malaysia gara-gara ajang sepakbola antar negara-negara Asia Tenggara itu malah semakin panas. Berawal dari gagal lolosnya Malaysia ke final meski sudah mencukur Singapura 6-0, dan akhirnya Indonesia menjadi juara, suporter kedua negara, terutama dimulai dari suporter malaysia, saling mengejek di media sosial. Semakin ke sini, saling ejek itu semakin sengit dan panas, sehingga mulai muncul ajakan saling memboikot produk masing-masing negara.
Gesekan yang semula hanya berupa riak adu gengsi di atas rumput hijau dan aksi saling sindir suporter kini merembet hingga ke rak-rak minimarket di kawasan Asia Tenggara. Eskalasi perselisihan warganet dua negara serumpun ini membakar ruang digital tak lama setelah Timnas Indonesia mengunci gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai menaklukkan Thailand lewat adu penalti pada 5 Oktober 2026. Sejumlah akun media sosial dari Malaysia mulai menggalakkan kampanye untuk beralih dari produk buatan Indonesia ke merek-merek lokal milik Negeri Jiran. Akun-akun populer menyebarkan panduan substitusi belanja yang membandingkan merek kedua negara secara mendalam.
Salah satunya diunggah oleh akun @kongsiviralje yang menuliskan ajakan berikut: "Boleh dah boikot barangan diorang & beli barangan Malaysia. Kahf = BadLab, Nano White. Mie Sedap, Indomie = Mamee, Cintan, Vits. Kara = Rasaku, Saji, M&S," ujarnya, dikutip Sabtu (10/10/2026). Aksi boikot belanja ini kian tereskalasi tatkala brand perawatan pria asal Indonesia, Kahf, melalui akun Threads resminya @kahfeveryday mengunggah konten humor sepak bola bertuliskan "HATI-HATI BEDA LEVEL" dan narasi "Tutor cara masuk Eropa dong" yang menempatkan bendera Indonesia di atas bendera negara-negara tetangga.
Unggahan yang sejatinya bermaksud sebagai kelakar kemenangan itu malah memantik amarah dan dinilai merendahkan martabat oleh warganet Malaysia. Sontak, tagar #BoikotKahf membumbung tinggi, disertai aksi sejumlah pengguna media sosial di Malaysia yang mengunggah video membuang produk perawatan tersebut, bahkan menyeret merek kosmetik saudaranya, Wardah, ke dalam lingkaran sasaran kemarahan.
Pihak manajemen Kahf sendiri telah mengambil tindakan tegas dengan menurunkan konten bermasalah tersebut dan merilis permohonan maaf terbuka melalui akun Threads resminya. Perusahaan mengakui bahwa konten yang diunggah tidak tepat serta tidak mencerminkan nilai penghormatan yang ingin dijunjung. Namun, permohonan maaf tersebut belum sepenuhnya meredakan kemarahan publik di Negeri Jiran.
Tagar boikot justru meluas hingga menyasar ekspansi jaringan waralaba dan industri kuliner Indonesia yang tengah naik daun di Malaysia, seperti Kenangan Coffee, J.CO Donuts & Coffee, Ai-Cha Ice Cream & Tea, MOMOYO, hingga restoran autentik seperti Rumah Makan Cibiuk, Ayam Penyet AP, dan Ayam Bakar Wong Solo. Narasi penolakan pun dipertajam oleh akun Threads @mee.zsa yang menggalang gerakan boikot gerai makanan dan minuman Indonesia. Akun tersebut mengklaim tindakan itu diambil bukan lagi semata soal kalah-menang di lapangan bola, melainkan bentuk reaksi atas tindakan sebagian warganet Indonesia yang dianggap telah menghina jajaran pemimpin dan Raja Malaysia.
Dalam unggahannya, @mee.zsa menuliskan: "Sebenarnya tiada niat ribut dengan orang Indonesia, tapi kenapa mereka menghina Raja kita, mantan pemimpin kita. Selama ini mereka berucap macam-macam kita tetap tolong. Tapi kesabaran orang Malaysia ada batasnya... Ayo boikot produk Indonesia. Tolong bagikan ulang ya kawan-kawan".
Perselisihan ini turut memicu respons beragam dari para figur publik dan pemangku kepentingan di kedua belah pihak. Penyanyi sekaligus aktor Malaysia yang menjadi duta merek Kahf, Alif Satar, secara terbuka menyatakan tidak mendukung konten yang merendahkan negaranya. Alif menekankan pentingnya menghormati Malaysia dan masyarakatnya sembari menegaskan, "Pemulihan kepercayaan membutuhkan tindakan nyata," ujarnya.
Sebaliknya, aktor Malaysia Sharnaaz Ahmad dan petarung Muay Thai Johan Ghazali mencoba mendinginkan suasana. Sharnaaz mengingatkan warganet kedua negara agar tidak membiarkan perselisihan di media sosial merusak hubungan panjang Indonesia-Malaysia, sembari menambahkan bahwa perselisihan tidak perlu diperpanjang setelah permintaan maaf resmi disampaikan. Johan Ghazali juga menilai perusahaan telah mengakui kesalahannya dan perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Di tengah polemik yang terus bergulir, pemerintah Indonesia memastikan bahwa hubungan perdagangan bilateral dengan Malaysia tidak terganggu. Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, menegaskan bahwa situasi yang ramai di media sosial tidak mencerminkan adanya pemboikotan secara luas di tingkat riil. "Saya kira enggak (boikot) ya, ini cuma mungkin sesaat saja, tapi kami juga sudah berkomunikasi dengan perwakilan dari KBRI, ini enggak ada masalah," kata Budi usai berkoordinasi langsung dengan Atase Perdagangan dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Budi optimis bahwa aktivitas perdagangan kedua negara serumpun tetap berjalan normal di luar dinamika sesaat warganet di ruang siber. (MAR)