JAKARTA, AFU.ID — Harga minyak dunia kembali mendekati 100 USD per barel setelah Amerika Serikat (AS) menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Harga minyak dunia diperkirakan akan merangkak naik. Sejumlah analis menyebut, jika gejolak di Selat Hormuz semakin tak terkendali, harga minyak dunia bisa tembus 120 USD. Pasar kini mengkhawatirkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu eskalasi konflik yang dapat mengganggu pelayaran minyak di Selat Hormuz.
Militer AS pada Selasa (8/9/2026) mengumumkan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Serangan itu dilakukan setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap kapal perang AS. Lima kapal tersebut merupakan tambahan dari sejumlah tanker Iran yang sebelumnya juga menjadi sasaran serangan AS. Eskalasi itu langsung mengguncang pasar minyak. Harga Brent sempat mendekati 100 USD per barel, sementara WTI juga mengalami kenaikan tajam. Brent bahkan mencapai sekitar 99,46 USD per barel pada perdagangan Selasa, level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Namun, secara fundamental, hilangnya lima tanker disebut bukan menjadi faktor utama untuk menjelaskan lonjakan harga. Efek berantai yang ditimbulkan akibat serangan itu lah yang menjadi biangnya. Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Setelah serangkaian serangan AS dan Iran, lalu lintas kapal di kawasan tersebut mulai menurun. Reuters melaporkan jumlah kapal komoditas yang melintasi Hormuz berada di bawah rata-rata normal, menunjukkan bahwa perusahaan pelayaran mulai menghadapi risiko yang semakin besar.
Jika kapal tanker mulai menghindari Hormuz atau menunda pelayaran, masalahnya bukan lagi berapa banyak minyak yang berada di lima kapal yang dihancurkan AS. Masalahnya adalah berapa banyak minyak yang tidak bisa dikirim ke pasar akibat gangguan pelayaran. Inilah yang dapat mengubah ketegangan geopolitik menjadi supply shock bagi pasar minyak. Selain itu, konflik mulai meluas ke infrastruktur energi negara lain. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi, menambah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan tidak hanya berasal dari Iran.
Goldman Sachs: Harga Minyak Bisa Tembus 120 USD
Goldman Sachs melihat risiko yang lebih besar justru berada pada kemungkinan gangguan pelayaran yang berkepanjangan. Daan Struyven, co-head global commodities research Goldman Sachs, mengatakan meningkatnya serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah membuat risiko gangguan pengiriman minyak menjadi semakin serius. Dalam analisisnya, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak dapat melonjak apabila serangan terhadap pelayaran di Timur Tengah semakin parah. Sebaliknya, jika ekspor minyak kawasan tersebut kembali normal ke harga 80 USD.
Analisis Goldman Sachs memperhitungkan gangguan terhadap sistem pengiriman minyak. Dengan kata lain, minyak mungkin tetap berada di dalam fasilitas produksi, tetapi tidak dapat dengan mudah mencapai pembeli. Dari lima tanker menjadi risiko sistemik. Lima tanker yang dihancurkan AS memiliki dampak langsung yang relatif terbatas terhadap total pasokan minyak dunia. Tetapi serangan tersebut dapat menciptakan konsekuensi yang jauh lebih besar jika Iran merespons dengan meningkatkan serangan terhadap kapal komersial atau memperketat akses melalui Hormuz.
Dengan begitu, pasar kemudian akan menghadapi tiga tekanan sekaligus. Pertama, kapal tanker menghadapi risiko serangan sehingga perusahaan pelayaran dapat mengurangi aktivitas di kawasan tersebut. Kedua, biaya asuransi dan pengangkutan dapat meningkat karena risiko perang. Ketiga, negara dan perusahaan minyak kemungkinan mulai menahan stok sebagai perlindungan terhadap kemungkinan gangguan pasokan lebih lanjut. Ketiga faktor tersebut dapat mendorong harga minyak naik bahkan sebelum terjadi kekurangan minyak secara fisik. Goldman Sachs sendiri menilai kondisi pasar saat ini masih memiliki bantalan berupa persediaan minyak global dan tambahan pasokan dari produsen di luar kawasan Timur Tengah. Namun, bantalan tersebut tidak akan cukup jika gangguan ekspor berlangsung lama dan semakin luas.
Kenaikan Brent menuju 100 USD per barel menunjukkan pasar mulai memberikan premi risiko yang lebih besar terhadap konflik AS-Iran. Jika eskalasi berhenti pada serangan terbatas terhadap aset militer dan beberapa tanker, harga minyak berpotensi kembali turun ketika risiko terhadap pelayaran mereda. Namun jika serangan meluas ke kapal komersial, terminal ekspor, fasilitas produksi atau jalur utama di sekitar Teluk Persia, perhitungan pasar akan berubah drastis. Dalam skenario tersebut, 100 USD bukan lagi sekadar batas psikologis. (EER)