Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Harga minyak mentah dunia kembali melesat lebih dari 3 persen seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Kekhawatiran itu muncul setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan. Hingga Rabu (8/7/2026) pukul 14.15 WIB, harga minyak mentah Brent kontrak September 2026 naik US$2,40 atau 3,2 persen menjadi US$76,56 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus 2026 menguat US$2,26 atau 3,2 persen ke level US$72,70 per barel.
Lonjakan harga dipicu keputusan Amerika Serikat mencabut izin umum yang sebelumnya memungkinkan penjualan minyak mentah Iran ke pasar internasional. Di saat yang sama, militer AS melancarkan serangan udara sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Aksi saling serang tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan energi dunia. Kepala Riset MST Marquee Saul Kavonic menilai konflik terbaru menjadi pengingat bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz masih sangat rentan terhadap gangguan. Menurutnya, jika ketegangan terus berlanjut dan lalu lintas kapal tetap berada di bawah 50 persen dari kondisi sebelum perang, harga minyak berpotensi terus menguat akibat terganggunya pasokan global.
Kekhawatiran pasar juga diperparah setelah Qatar menuding Iran berada di balik serangan terhadap sejumlah kapal, termasuk kapal tanker LNG miliknya yang dilaporkan terbakar akibat serangan drone. Di saat yang sama, sebuah supertanker berbendera Arab Saudi dilaporkan mengalami kerusakan di perairan Oman, meski penyebab insiden tersebut masih diselidiki.
Sebelumnya, harga minyak sempat turun ke level sebelum perang usai Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata bulan lalu. Namun, eskalasi terbaru membuat pelaku pasar kembali mengantisipasi potensi terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. (RAI)