AFU.ID - Sedikitnya dua kapal tanker minyak putar balik dari Selat Hormuz menyusul penerapan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Senin. Kebijakan yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump ini langsung memicu gangguan pelayaran di kawasan tersebut dan mendorong lonjakan harga minyak mentah global hingga menyentuh angka $100 per barel.
Berdasarkan data pelacakan kapal MarineTraffic, kapal tanker Rich Starry sepanjang 188 meter yang berlayar dari Sharjah menuju China, serta kapal tanker Ostria, langsung mengubah haluan beberapa menit saat mendekati jalur perairan tersebut. Militer AS mengonfirmasi bahwa blokade ini secara khusus menargetkan kapal yang masuk atau keluar dari wilayah pesisir dan pelabuhan Iran, sementara kapal dengan tujuan negara lain tetap diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa armada Iran mana pun yang mencoba mendekati area blokade akan "segera dieliminasi." Langkah agresif ini diambil setelah negosiasi tingkat tinggi antara AS dan Iran berakhir buntu pada hari Minggu.
Pemerintah AS menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk memutus akses Iran dari keuntungan ekspor minyak, sekaligus memberikan tekanan ekonomi agar Teheran bersedia menghentikan program pengayaan nuklir dan menyerahkan timbunan uranium mereka. Trump juga mengklaim bahwa pihak Iran telah meminta negosiasi dilanjutkan, meski belum ada konfirmasi dari Teheran.
Reaksi Iran dan Dampak Ekonomi
Mengutip dari Times Now News, kebijakan sepihak AS ini mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru disepakati kurang dari sepekan yang lalu. Merespons blokade tersebut, Juru Bicara Militer Iran Ebrahim Zolfaghari mengeluarkan peringatan keras dengan menyatakan bahwa jika pelabuhan Iran terancam, maka "tidak akan ada satu pun pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman yang aman."
Eskalasi ketegangan di Selat Hormuz, jalur yang menangani sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia, langsung memicu kepanikan di pasar global. Harga minyak mentah Brent melonjak tajam di kisaran $100 per barel pada Senin siang. Selain itu, indeks pasar saham di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia dilaporkan melemah akibat kekhawatiran krisis pasokan energi dunia.
Sekutu Eropa Menjaga Jarak
Langkah Washington mendapat respons dingin dari sekutu-sekutu terdekatnya di Eropa. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara tegas menyatakan bahwa Inggris tidak akan ikut campur maupun berpartisipasi dalam operasi tersebut. Senada dengan Inggris, Menteri Pertahanan Spanyol mengkritik langkah blokade AS dengan menyebutnya sebagai tindakan yang "tidak masuk akal."
Sejumlah analis independen juga meragukan efektivitas operasi militer ini. Mereka menyoroti bahwa rentetan konflik yang telah menewaskan tokoh-tokoh senior Iran sebelumnya terbukti tidak cukup untuk memaksa Teheran tunduk pada tuntutan Washington. (fad/asw)