JAKARTA, AFU.ID — Harga minyak dunia naik hampir 2 persen setelah Amerika Serikat menyerang Iran dan kembali membatasi penjualan minyak negara tersebut. Pasar khawatir gencatan senjata yang masih rapuh kembali runtuh. Risiko terbesar muncul dari Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dari Timur Tengah.
Harga minyak Brent naik ke US$75,54 per barel pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Sementara minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate, menguat ke US$71,81 per barel. Kenaikan itu melanjutkan lonjakan sekitar 3 persen pada perdagangan sebelumnya.
Militer Amerika Serikat menyatakan serangan dilakukan setelah tiga kapal niaga diserang saat melintasi Selat Hormuz. Washington juga mencabut izin umum yang sebelumnya memungkinkan penjualan minyak mentah Iran. Dua langkah itu membuat pasar kembali memasukkan risiko perang ke harga minyak.
Kepala Riset MST Marquee Saul Kavonic mengatakan konflik terbaru menunjukkan pelayaran melalui Selat Hormuz masih rentan. “Kondisi konflik saat ini menjadi pengingat bagi pasar bahwa keamanan pelayaran masih sangat rentan,” kata Kavonic, dikutip Reuters.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis karena menghubungkan produsen minyak Teluk dengan pasar global. Gangguan di jalur ini dapat menahan pengiriman minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah. Karena itu, serangan terhadap kapal niaga langsung memengaruhi harga minyak dunia.
Iran membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Namun, Qatar menuding Iran berada di balik serangan terhadap kapal tanker gas alam cair miliknya. Sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi juga dilaporkan mengalami kerusakan di perairan lepas Oman.
Sebelum ketegangan terbaru, harga minyak sempat turun ke level sebelum perang. Pasar memperkirakan pasokan dari Timur Tengah akan kembali mengalir setelah kesepakatan gencatan senjata. Namun, serangan baru dan sanksi Amerika Serikat membuat perkiraan itu berubah.
Persediaan minyak mentah Amerika Serikat juga dilaporkan turun pada pekan lalu. Kondisi itu menambah tekanan di pasar ketika pasokan global kembali dibayangi gangguan. Jika ketegangan di Hormuz berlanjut, harga minyak berpotensi tetap bergerak naik. (RHU)