JAKARTA, AFU.ID — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Ukraina kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump meminta agar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky diganti. Ketegangan ini bermula saat Trump tidak setuju dengan serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia yang disebut akan menambah beban krisis energi dunia yang menyebabkan kelangkaan bahan bakar. Pernyataan Trump disampaikan kepada wartawan di Gedung Putih pada Sabtu (9/10/2026). Di sisi lain, Washington sedang berada di tengah kesepakatan kerjasama dengan Rusia terkait penyediaan minyak.
“Saya pikir sudah waktunya Ukraina memiliki presiden baru,” kata Trump. Ia menilai serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah mengganggu pasokan solar global, yang berdampak pada petani dan peternak di Amerika Serikat. Trump juga mendesak Zelensky menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Rusia. Menurutnya, Ukraina masih memiliki banyak sasaran lain yang dapat diserang tanpa mengganggu operasional kilang minyak.
“Saya sudah mengatakan kepadanya, ‘Lakukan apa yang Anda inginkan. Jangan menyerang kilang minyak. Ada banyak sasaran lain. Jangan menyerang kilang minyak.’ Namun, dia tetap melakukannya,” ujar Trump. Ia kemudian menegaskan bahwa Zelensky seharusnya mundur dan digantikan pemimpin yang mampu mencapai kesepakatan damai dengan Rusia. “Saya menyarankan agar mereka memilih pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan,” katanya.
Pernyataan Trump muncul setelah ia mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membeli solar dari Rusia pada Jumat. Langkah tersebut disebut sebagai upaya menekan harga bahan bakar yang melonjak di pasar global. Kenaikan harga energi terjadi setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Situasi tersebut menjadi beban politik bagi Partai Republik pimpinan Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada bulan berikutnya, ketika Partai Demokrat berpeluang menguasai satu atau kedua kamar Kongres AS.
Trump berulang kali menyalahkan serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia atas tingginya harga solar di Amerika Serikat. Sikap tersebut menuai kritik karena Washington sebelumnya menerapkan tekanan ekonomi terhadap Moskow menyusul invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina. Bahkan, pengumuman kesepakatan pembelian solar itu dinilai bertolak belakang dengan undang-undang sanksi terhadap Rusia yang ditandatangani Trump pada bulan sebelumnya. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan pendapatan Rusia dari sektor minyak dan gas yang membantu membiayai perang.
Kesepakatan itu juga menuai kritik dari anggota parlemen AS. Perwakilan Partai Republik Don Bacon menilai Washington seharusnya memperketat sanksi terhadap Rusia, bukan justru melonggarkannya. Sekutu-sekutu Ukraina di Eropa turut menyatakan kekecewaan atas kesepakatan tersebut dan menegaskan komitmen mereka untuk mempertahankan sanksi terhadap Moskow. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, menurut juru bicara Downing Street, telah berbicara dengan Zelensky pada Sabtu. Pemerintah Inggris juga menyatakan akan memperkuat sanksi terhadap Rusia.
Sikap Ukraina terhadap Zelensky
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menanggapi kritik Trump dengan membela kepemimpinan Zelensky. Melalui unggahan di media sosial X, Sybiha menegaskan bahwa masa depan kepemimpinan Ukraina merupakan hak rakyat negara tersebut. “Dia mendapat dukungan dari rakyat Ukraina, dan mereka berhak menentukan pilihan,” tulis Sybiha. Ia juga menilai pernyataan dari luar negeri justru menegaskan bahwa Zelensky telah menjalankan tugasnya dengan baik dan layak mendapatkan dukungan.
Ketegangan diplomatik ini memperlihatkan perbedaan pendekatan Washington dan Kyiv dalam menghadapi perang Rusia-Ukraina. Trump menekankan pentingnya kesepakatan damai dan stabilitas pasokan energi, sedangkan pemerintah Ukraina menilai tekanan terhadap Moskow harus dipertahankan agar Rusia tidak semakin leluasa melanjutkan perang. Sementara itu, Rusia terus melancarkan serangan yang menewaskan 20 orang, termasuk tiga anak-anak, di Kota Zaporizhzhia, Ukraina, pada Sabtu.
Zelensky mengaitkan serangan itu dengan keputusan AS untuk melonggarkan tekanan terhadap ekspor solar Rusia. Ia menilai kebijakan tersebut dapat memberi Moskow tambahan sumber pendapatan sekaligus mendorong Rusia terus melanjutkan agresinya. “Hari ini, Rusia mengucapkan terima kasih atas pencabutan sanksi terhadap ekspor solar dengan menjatuhkan lima bom luncur ke bangunan tempat tinggal di Zaporizhzhia,” kata Zelensky.
Ia menambahkan bahwa pelonggaran tekanan terhadap Rusia berisiko ditafsirkan Moskow sebagai sinyal bahwa perang dapat terus dilanjutkan tanpa konsekuensi yang lebih berat. Serangan di Zaporizhzhia menjadi serangan ketiga dengan korban massal di Ukraina dalam empat hari. Pada Rabu dan Kamis sebelumnya, serangan Rusia dilaporkan menewaskan hampir 80 warga sipil, termasuk sedikitnya 30 orang akibat serangan bom di Kota Kramatorsk dan 22 orang akibat serangan rudal di Kota Pryluky, sekitar 130 kilometer di sebelah timur Kyiv.
Zelensky memperingatkan bahwa tambahan pendapatan sebesar 1 miliar dolar AS dari ekspor Rusia dapat digunakan untuk membiayai komponen persenjataan, pengembangan drone, produksi rudal, serta perekrutan tentara bayaran. Menurutnya, Rusia baru akan bersedia menghentikan perang apabila kemampuan militernya untuk melanjutkan pertempuran semakin melemah. (EER)