JAKARTA, AFU.ID — Otoritas Arab Saudi melaporkan 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka dalam serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Sabtu (10/10/2026). Di tengah proses identifikasi korban, koalisi pimpinan Arab Saudi yang bertempur melawan kelompok Houthi di Yaman menyatakan akan memberikan respons tegas atas serangan tersebut.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum Saudi (GACA) menyebut korban tewas terdiri atas empat warga negara Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Namun, hingga laporan ini disusun, nama lengkap 11 korban belum dipublikasikan secara luas oleh sumber berita tepercaya, dikutip Afu.id dari Saudi Gazet, Minggu (11/10/2026).
Satu korban yang telah diidentifikasi dalam pemberitaan media adalah Azza Ramzi Mohamed Hassan, 28 tahun, warga Mesir yang bekerja sebagai pramugari maskapai Saudi, flynas. Gulf News melaporkan Azza mengalami luka parah akibat serangan tersebut sebelum meninggal dunia. Identitasnya diberitakan berdasarkan laporan media Mesir, bukan daftar nama resmi yang dirilis GACA.
Serangan itu menghantam kompleks Bandara Internasional King Khalid yang mencakup Terminal 3 dan 4 untuk penerbangan domestik. Sebagian korban luka dilaporkan berada dalam kondisi kritis dan mendapat perawatan di sejumlah rumah sakit. Operasional bandara sempat dihentikan, sementara sejumlah penerbangan dialihkan.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman dalam konflik melawan Houthi menyalahkan kelompok tersebut atas serangan di bandara Riyadh. Juru bicara koalisi menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang dan menyatakan koalisi akan merespons secara tegas sesuai hukum humaniter internasional.
Ancaman balasan tersebut muncul di tengah eskalasi serangan antara Saudi dan Houthi. Sebelumnya, koalisi menyatakan telah menghancurkan 82 sasaran militer Houthi di sejumlah wilayah Yaman, termasuk fasilitas penyimpanan rudal balistik, pusat komando, sistem komunikasi, dan gudang persenjataan. Koalisi menyatakan serangan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil tidak akan dibiarkan tanpa respons.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam serangan terhadap Houthi bersama Saudi. Trump menyebut keputusan akan diambil setelah pemerintahannya mengevaluasi serangan terbaru tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam serangan yang menewaskan seorang warga Amerika itu.
Meski demikian, belum ada pengumuman resmi yang memastikan bentuk maupun waktu operasi balasan baru sebagai respons khusus atas serangan 10 Oktober tersebut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap meluasnya konflik di kawasan, terutama karena bandara dan fasilitas penerbangan sipil Saudi kembali menjadi sasaran dalam serangkaian serangan beberapa hari terakhir. (EER)