JAKARTA, AFU.ID — Kelompok Houthi di Yaman meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dengan menyasar sejumlah fasilitas strategis, mulai dari bandara, infrastruktur energi hingga kawasan perkotaan. Eskalasi terbaru terjadi sepanjang awal Oktober 2026. Houthi mengklaim melancarkan serangan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone terhadap sejumlah target di wilayah Arab Saudi sebagai respons atas operasi militer Saudi dan sekutunya di Yaman.
Pada Kamis (8/10/2026), Houthi kembali mengklaim meluncurkan rudal balistik ke King Khalid International Airport di Riyadh. Reuters melaporkan belum ada konfirmasi langsung dari otoritas Saudi mengenai dampak serangan terbaru tersebut. Serangan itu terjadi sehari setelah serangan sebelumnya ke bandara yang sama menewaskan satu orang.
Sehari sebelumnya, serangan terhadap King Khalid International Airport dan Abha International Airport menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Otoritas penerbangan sipil Saudi menyebut dua warga perempuan berkewarganegaraan Maroko dan Aljazair tewas dalam serangan di Abha, sementara seorang warga Sudan meninggal dalam serangan di Riyadh.
Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas bandara. Delapan orang terluka dalam serangan di Riyadh, sedangkan 28 orang mengalami luka dalam serangan di Abha. Selain bandara, infrastruktur energi menjadi salah satu sasaran utama dalam rangkaian serangan Houthi. Pada 3 Oktober, kelompok tersebut mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Riyadh menggunakan rudal balistik dan drone.
Reuters melaporkan adanya kepulan asap dan api di sekitar fasilitas yang disebut sebagai lokasi serangan, tetapi belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Saudi maupun Aramco mengenai kerusakan tersebut. Pada 5 Oktober, Houthi kembali mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Rabigh serta sejumlah lokasi militer dan bandara. Kelompok tersebut juga memperingatkan maskapai agar berhati-hati menggunakan wilayah udara Saudi.
Serangan terhadap fasilitas energi memiliki arti strategis karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Infrastruktur seperti kilang, terminal, depot bahan bakar dan jaringan pipa menjadi bagian penting dari sistem produksi serta distribusi minyak negara tersebut. Selain Riyadh dan Rabigh, wilayah selatan Saudi seperti Jazan, Najran, Abha dan Khamis Mushait juga berulang kali masuk dalam sasaran serangan atau percobaan serangan. Pada awal Oktober, otoritas Saudi melaporkan serangan terhadap bandara di Najran dan Jazan yang menyebabkan tiga orang terluka. Sebuah rudal balistik yang diarahkan ke Khamis Mushait juga dilaporkan berhasil dicegat.
Pada September, pertahanan udara Saudi juga melaporkan berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan menuju Riyadh. Upaya serangan lainnya disebut diarahkan ke Baish, Taif, Farasan dan Yanbu. Pola tersebut menunjukkan cakupan sasaran Houthi tidak hanya berada di wilayah perbatasan Saudi-Yaman. Riyadh sebagai ibu kota, bandara sipil, fasilitas energi, pangkalan militer dan sejumlah kawasan perkotaan ikut berada dalam jangkauan serangan.
Saudi bersama pasukan koalisi kemudian merespons dengan meningkatkan serangan terhadap posisi Houthi di Yaman. Pada 7 Oktober, koalisi Saudi mengklaim menghancurkan 82 sasaran militer Houthi di sejumlah provinsi Yaman, termasuk fasilitas penyimpanan rudal balistik, pusat komando dan kontrol, depot senjata serta fasilitas komunikasi.
Eskalasi ini terjadi setelah pertempuran di Yaman kembali meningkat. Pasukan yang didukung Saudi melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah strategis di sekitar pesisir Laut Merah dan Bab el-Mandeb dari Houthi. Kawasan tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan dan pengiriman energi global. (EER)