Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
KBRI: 12 Orang Tewas dan 309 Terluka akibat Serangan Houthi di Bandara Riyadh, Tak Ada WNI yang Tewas
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Serangan kelompok Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober 2026, mengakibatkan 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka, namun Kementerian Luar Negeri RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban jiwa. Korban meninggal terdiri dari warga Saudi, Bangladesh, dan beberapa negara lainnya, sementara KBRI Riyadh masih melakukan pemantauan terhadap kemungkinan adanya WNI yang terluka. Serangan ini memicu kecaman dari koalisi militer pimpinan Arab Saudi, yang berjanji akan memberikan respons tegas terhadap Houthi, sementara beberapa negara, termasuk AS, mengimbau warganya untuk menjauhi lokasi kejadian.
Kondisi Bandara Riyand usai serangan kelompok Houthi, Sabtu, 10 Oktober 2026. (Foto: X/@softwarnews)
JAKARTA, AFU.ID — Serangan kelompok Houthi ke Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026), menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) dalam daftar korban meninggal. Namun, untuk korban luka masih sedang ditelusuri oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh.
Berdasarkan data otoritas Arab Saudi, korban meninggal terdiri atas empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, dan satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Sejumlah korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis dan mendapat perawatan di rumah sakit. Serangan tersebut juga mengganggu aktivitas penerbangan karena operasional bandara sempat dihentikan untuk pemeriksaan keamanan.
Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan pihaknya masih menelusuri kemungkinan warga Indonesia yang terdampak, terutama mereka yang menjalani perawatan medis. “KBRI Riyadh terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan melakukan pemantauan ke sejumlah rumah sakit di Riyadh dan sekitarnya untuk memastikan ada atau tidaknya WNI yang terdampak,” kata Heni dalam keterangan resmi. Pemantauan juga dilakukan bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah untuk menyiapkan langkah perlindungan apabila ditemukan warga Indonesia yang membutuhkan bantuan.
Serangan di bandara Riyadh memicu kecaman dari koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang berperang melawan kelompok Houthi di Yaman. Koalisi menuding Houthi bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tersebut dan menyatakan akan memberikan respons tegas. Ketegangan meningkat setelah Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan telah menghancurkan 82 sasaran militer Houthi di sejumlah wilayah Yaman, termasuk fasilitas penyimpanan rudal dan pusat komando.
Kedutaan besar Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jerman, dan Spanyol mengimbau warga negara mereka menjauhi kawasan bandara serta mengikuti arahan otoritas setempat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan keterlibatan dalam operasi militer Arab Saudi terhadap Houthi, tetapi belum mengumumkan keputusan akhir. (RAI)