Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Profil Reniyanti Hoegeng, Putri Sulung Kapolri Legendaris yang Wafat di Usia 78 Tahun
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Arsip - Putri sulung Jenderal Hoegeng, Reni Soerjanti Hoegeng (kanan) bersama ibundanya Meriyati Roeslani Hoegeng (kiri). (ANTARA/HO arsip keluarga)
JAKARTA, AFU.ID — Reniyanti Hoegeng, putri sulung mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia di Eka Hospital Depok, Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 00.43 WIB. Reniyanti mengembuskan napas terakhir pada usia 78 tahun setelah kondisi kesehatannya menurun dalam beberapa waktu terakhir. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Giri Tama, Tonjong, Kabupaten Bogor, setelah salat zuhur.
Kepergian Reniyanti terjadi sekitar tujuh bulan setelah sang ibu, Meriyati Roeslani Hoegeng atau Meri Hoegeng, meninggal dunia pada usia 100 tahun. Meri wafat di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 3 Februari 2026 setelah menjalani perawatan intensif.
Profil Reniyanti Hoegeng
Reniyanti adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Hoegeng dan Meri Hoegeng, dengan dua adik bernama Aditya Soetanto Hoegeng dan Sri Pamujining Rahayu. Ia juga memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh nasional, salah satunya Megawati Soekarnoputri yang dikenal sebagai sahabatnya sejak bersekolah di Perguruan Cikini, Jakarta. Hubungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan sosial Reniyanti yang membuat namanya tetap dekat dengan sejumlah figur publik di Indonesia.
Reniyanti menikah dengan aktor senior Rudy Wowor pada 1975 hingga 2003. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua anak, yakni Siti Madinah Wowor dan Michael Ben Syura Sondia Wowor yang turut mendampingi Reniyanti hingga akhir hayatnya. Rudy Wowor lebih dahulu meninggal dunia pada 5 Oktober 2018 setelah menderita kanker prostat.
Di luar kehidupan keluarganya, Reniyanti tumbuh sebagai bagian dari keluarga yang lekat dengan nilai integritas dan kesederhanaan yang diwariskan Hoegeng. Ayahnya adalah Kapolri ke-5 yang menjabat pada 1968–1971. Hoegeng dikenal luas karena sikap tegas terhadap korupsi, suap, serta gratifikasi. Sosoknya bahkan begitu kuat dikenang hingga melahirkan ungkapan populer Gus Dur mengenai tiga polisi yang tidak bisa disuap, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.
Sementara itu, Meri Hoegeng juga memiliki perjalanan hidup yang erat dengan prinsip yang sama dalam menjaga keluarga. Ia menikah dengan Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta setelah keduanya bertemu lewat kegiatan siaran radio. Setelah Hoegeng tak lagi aktif di kepolisian, keduanya menjalani masa tua dengan melukis dan bermusik, termasuk tampil bersama kelompok The Hawaiian Seniors di radio dan televisi.
Meri juga dikenal tidak sekadar sebagai pendamping Hoegeng, tetapi memiliki sikap tegas dalam menjaga integritas keluarga. Sejumlah kisah mencatat penolakannya terhadap pemberian yang berpotensi menjadi gratifikasi, termasuk ketika ia memilih menutup toko bunga Leilani karena khawatir usaha tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendekati Hoegeng sebagai pejabat. Pada usia 100 tahun, Meri sempat menerbitkan autobiografi Meriyati Hoegeng-100 Tahun Langkah Setia Pengabdian yang disusun cucunya, Krisnadi Ramajaya Hoegeng, sebelum meninggal dunia pada awal 2026. (RAI)