JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 69 siswa dari tiga sekolah di wilayah Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami gejala keracunan usai menyantap hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (07/09/2026). Para korban yang berasal dari SMK Muhammadiyah 1 Turi, SMPN 3 Turi, dan SD Muhammadiyah Balerante mengeluhkan gejala mual, muntah, serta pusing usai mengonsumsi makanan yang bersumber dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto.
Kepala SMPN 3 Turi, Widayati, menjelaskan bahwa pengiriman paket makanan tiba di sekolah sekitar pukul 07.10 WIB. Sebelum disajikan, petugas piket telah melakukan pemeriksaan kelaikan atau tes organoleptik sesuai standar operasional yang berlaku dan tidak menemukan adanya kejanggalan pada warna maupun tekstur makanan. Paket olahan yang dibagikan berisi nasi, bola-bola daging, tumis kol dan wortel, edamame, serta buah semangka kuning.
Keluhan kesehatan dilaporkan mulai muncul secara mendadak tak lama setelah siswa dan tenaga pengajar menyelesaikan makan pagi. Seorang guru pendamping dilaporkan mengalami gejala paling parah berupa muntah hebat secara berulang hingga harus dirujuk ke RSUD Sleman. Puluhan siswa yang mulai merasakan pusing serta mual langsung dipindahkan ke ruang UKS sebelum dievakuasi menggunakan armada ambulans ke Puskesmas Turi dan fasilitas kesehatan terdekat.
Beruntung, pengiriman paket makanan dengan menu serupa ke TK Indriasana berhasil ditarik oleh pihak penyedia sebelum sempat dikonsumsi oleh para murid. Langkah cepat tersebut dilakukan sesaat setelah pihak sekolah menerima informasi awal mengenai dugaan keracunan massal yang melanda sekolah penerima lainnya. Penanganan darurat di lapangan turut melibatkan tim lintas sektor dari Kapanewon Turi guna mengantisipasi bertambahnya jumlah korban.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman secara resmi mengategorikan insiden keracunan massal ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) program. Kepala Bidang P2PL Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, menegaskan bahwa status ini menetapkan penanganan darurat secara langsung tanpa memerlukan keputusan bupati. Pihaknya mengimbau para orang tua murid untuk tetap tenang sembari memantau kondisi kesehatan anak selama tiga hari ke depan mengingat reaksi dampak paparan keracunan dapat berlangsung secara bertahap. (RHU)