JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 37 siswa di Kota Kediri, Jawa Timur, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah. Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel nasi dan melon dari menu tersebut. Pemeriksaan terhadap sampel ayam masih berlangsung untuk melengkapi penelusuran.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr. Hamida mengatakan satu bakteri ditemukan pada sampel nasi, sedangkan tujuh bakteri terdeteksi pada sampel melon. Menurut dia, temuan tersebut dapat berkaitan dengan proses pengolahan makanan, mulai dari bahan mentah, pencucian, penyimpanan, pemasakan, hingga jeda antara makanan selesai dimasak dan dibagikan. “Ya mungkin dari pemrosesannya. Mulai dari bahan mentahnya mungkin, atau setelah dimasaknya mungkin jarak antara makanan masak sama diberikan,” kata Hamida.
Gangguan kesehatan pertama kali dilaporkan pada Kamis (17/9/2026) setelah sembilan siswa SDN Kampung Dalem 3 mengalami mual hingga muntah. Jumlah tersebut bertambah dan mencakup siswa dari SDN Kampung Dalem 4 serta SDN Kaliombo, sehingga total siswa terdampak mencapai 37 orang. Sebagian siswa mendapat perawatan di fasilitas kesehatan sesuai tingkat gejala yang dialami.
Dari 15 siswa yang sempat dirawat di RSUD Gambiran, sebanyak 13 orang telah diperbolehkan pulang dan dua lainnya masih menjalani observasi. Kedua siswa tersebut disebut dalam kondisi membaik, sedangkan siswa yang menjalani rawat jalan juga telah mendapat pemeriksaan tenaga kesehatan. “Yang dua ini kondisinya sudah membaik. Sudah baik, tinggal kita observasi lebih lanjut,” ujar Hamida, dikutip dari Detik.
Gejala yang dialami para siswa memiliki tingkat keparahan berbeda, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Perbedaan kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi daya tahan tubuh masing-masing siswa, sehingga pasien dengan gejala lebih berat mendapat penanganan di rumah sakit. Dinkes Kota Kediri selanjutnya akan memberikan advis kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar prosedur keamanan dan sanitasi makanan diterapkan secara konsisten.
Pemeriksaan terhadap makanan masih dilanjutkan untuk memastikan seluruh temuan dari sampel yang telah dikirim ke laboratorium. Dinkes juga menyoroti proses pengemasan karena makanan yang masih panas lalu langsung ditutup disebut dapat menjadi kondisi yang memungkinkan bakteri berkembang. Hasil pemeriksaan dan evaluasi tersebut akan menjadi dasar untuk memperkuat penerapan standar keamanan makanan dalam penyelenggaraan MBG di sekolah.