JAKARTA, AFU.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan telah memasuki atmosfer wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Meski belum terindikasi mencapai permukaan tanah, BMKG mengingatkan bahwa pergerakan asap sangat dipengaruhi arah angin dan kondisi atmosfer sehingga masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara.
Paparan asap karhutla bukan sekadar membuat mata perih atau tenggorokan terasa kering. Asap mengandung partikel mikroskopis PM2.5 yang ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia. Karena sangat halus, partikel ini mampu menembus sistem pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit jantung, dan penyakit paru kronis, dampaknya bisa jauh lebih serius.
Di tengah ancaman tersebut, masih banyak kebiasaan yang tanpa disadari justru meningkatkan risiko paparan polusi. Berikut tujuh kesalahan yang paling sering dilakukan masyarakat saat kualitas udara memburuk.
1. Tetap Berolahraga di Luar Ruangan
Banyak orang tetap melakukan jogging, bersepeda, atau latihan fisik di luar rumah karena menganggap olahraga akan meningkatkan daya tahan tubuh. Namun ketika kualitas udara memburuk, aktivitas fisik justru membuat paru-paru bekerja lebih keras.
Saat seseorang berlari, kebutuhan oksigen meningkat sehingga frekuensi dan volume napas menjadi lebih tinggi. Kondisi ini menyebabkan lebih banyak partikel polusi ikut terhirup dan masuk lebih dalam ke saluran pernapasan. Dalam jangka pendek kondisi tersebut dapat memicu batuk, sesak napas, iritasi saluran napas, hingga memperburuk asma yang sudah ada sebelumnya. Karena itu BMKG mengimbau masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi.
2. Menganggap Berada di Dalam Rumah Pasti Aman
Salah satu kekeliruan terbesar adalah menganggap asap hanya berbahaya bagi mereka yang berada di luar rumah. Faktanya, partikel asap dapat masuk melalui ventilasi, lubang udara, celah jendela, hingga retakan kecil pada bangunan.
Pada rumah yang tidak memiliki sistem penyaringan udara yang baik, kualitas udara di dalam ruangan bisa ikut menurun. Karena itu banyak ahli kesehatan menyarankan konsep clean room atau ruang bersih. Pilih satu ruangan dengan bukaan minimal, tutup rapat jendela dan pintu, lalu gunakan penyaring udara bila memungkinkan. Langkah sederhana ini dapat mengurangi jumlah partikel polutan yang terhirup anggota keluarga.
3. Menggunakan Masker yang Tidak Sesuai
Saat udara memburuk, banyak orang mengenakan masker hanya sebagai formalitas. Padahal tidak semua masker memiliki kemampuan menyaring partikel PM2.5.
Masker kain tipis atau masker yang sudah longgar umumnya kurang efektif menyaring partikel mikro dari asap karhutla. Masker yang lebih direkomendasikan adalah N95, KN95, atau KF94 karena memiliki kemampuan filtrasi yang lebih tinggi. Namun efektivitas masker juga bergantung pada cara pemakaian. Masker yang dipakai di bawah hidung, terlalu longgar, atau sering dilepas saat berbicara akan kehilangan sebagian besar fungsi perlindungannya.
4. Membuka Jendela karena Merasa Udara Terlalu Panas
Cuaca panas sering membuat orang membuka jendela lebar-lebar untuk mendapatkan sirkulasi udara. Dalam kondisi normal, hal tersebut memang baik. Namun saat kualitas udara sedang buruk, tindakan tersebut justru mempercepat masuknya polutan ke dalam rumah.
Jika menggunakan pendingin ruangan, lebih baik mengaktifkan mode sirkulasi udara dalam ruangan (air recirculation). Tujuannya agar udara yang beredar tetap berasal dari dalam rumah dan tidak menarik udara luar yang mengandung partikel polutan. Kebiasaan sederhana ini sering diabaikan padahal sangat berpengaruh terhadap kualitas udara di dalam rumah.
5. Merokok di Dalam Rumah
Ketika udara luar sudah tercemar, menambah sumber polusi di dalam rumah adalah keputusan yang memperburuk keadaan. Asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia yang turut membebani sistem pernapasan.
Bagi anak-anak, paparan gabungan antara asap rokok dan asap karhutla dapat meningkatkan risiko infeksi saluran napas, memperburuk alergi, serta memicu serangan asma. Risiko serupa juga berlaku pada lansia dan penderita penyakit jantung maupun paru. Karena itu, menjaga kualitas udara dalam rumah sama pentingnya dengan mengurangi paparan dari luar.
6. Tidak Pernah Mengecek Kualitas Udara
Banyak orang beranggapan udara masih aman selama langit terlihat cerah. Padahal polusi tidak selalu terlihat oleh mata. Dalam banyak kasus, kadar PM2.5 sudah berada pada level tidak sehat meski tidak ada kabut tebal.
Karena itu, masyarakat disarankan rutin memantau Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Pemantauan ini membantu menentukan kapan aktivitas luar ruangan perlu dibatasi dan kapan kelompok rentan perlu mendapatkan perlindungan ekstra. BMKG juga menegaskan bahwa risiko kesehatan lebih tepat dinilai dari kualitas udara yang terukur dibanding hanya melihat citra satelit atau kondisi langit.
7. Menunggu Gejala Muncul Baru Bertindak
Kesalahan terakhir adalah menganggap tubuh akan langsung memberi tanda jika paparan polusi sudah berbahaya. Tidak selalu demikian.
Pada banyak kasus, dampak polusi muncul secara bertahap. Awalnya hanya berupa tenggorokan kering, mata perih, atau sakit kepala ringan. Namun bagi kelompok rentan, kondisi itu bisa berkembang menjadi sesak napas, infeksi saluran pernapasan, penurunan fungsi paru, hingga membutuhkan perawatan medis. Karena itu tindakan pencegahan sebaiknya dilakukan sebelum gejala muncul, bukan setelah tubuh mulai menunjukkan keluhan.
BMKG menegaskan asap karhutla dari Kalimantan memang telah terdeteksi berada di atmosfer Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Namun hingga saat ini belum ada bukti bahwa asap tersebut telah mencapai permukaan tanah dalam konsentrasi yang signifikan. Meski demikian, kualitas udara di Jakarta sedang berada dalam sorotan dan masyarakat tetap dianjurkan membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker saat diperlukan, serta memantau kondisi udara setiap hari.
Dalam menghadapi musim karhutla, langkah paling efektif bukanlah menunggu pemerintah mengeluarkan peringatan darurat, melainkan mengubah kebiasaan sehari-hari. Sebab pada akhirnya, perlindungan terbaik terhadap polusi udara dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan setiap orang di rumah masing-masing. (RHU)