JAKARTA, AFU.ID — Film Empat Musim Pertiwi terpilih mewakili Indonesia dalam persaingan kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027. Karya sutradara Kamila Andini ini mengangkat kisah perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun dipenjara, tetapi menghadapi penolakan dari lingkungan sendiri. Melalui karakter Pertiwi yang diperankan Putri Marino, film ini membawa persoalan ketidakadilan terhadap perempuan dan stigma sosial ke panggung perfilman internasional.
Pemilihan Empat Musim Pertiwi dilakukan melalui rapat pleno Indonesian Oscar Selection Committee (IOSC), yang bertugas menentukan film Indonesia untuk diajukan ke Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). Meski telah terpilih sebagai wakil Indonesia, film tersebut masih harus melewati tahapan seleksi Academy sebelum masuk daftar nominasi. Perjalanannya menjadi perhatian karena film ini tidak hanya menawarkan kisah personal, namun juga persoalan sosial yang berakar pada konteks masyarakat Indonesia.
Sinopsis Empat Musim Pertiwi dan Daftar Pemain
Cerita berpusat pada Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya di kawasan Pegunungan Tengger, Jawa Timur, setelah menjalani hukuman penjara selama dua dekade. Ia dipenjara setelah membunuh seseorang dalam upayanya melawan percobaan pemerkosaan, pengalaman traumatis tersebut terus membayangi kehidupannya. Kepulangan yang diharapkan menjadi awal baru justru mempertemukannya dengan penolakan keluarga dan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, hanya Mak Ira dan Bisma yang bersedia menerima Pertiwi kembali. Ia harus menghadapi stigma, luka masa lalu, serta kesulitan membangun kembali hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Perjalanan tokoh utama menjadi cara film ini menyoroti ketidakadilan terhadap penyintas kekerasan seksual dan tekanan sosial yang dapat terus membebani korban.
Putri Marino memerankan Pertiwi, dengan Christine Hakim sebagai Mak Ira dan Arya Saloka sebagai Bisma. Film ini juga dibintangi Hana Pitrashata Malasan sebagai Niken, Totos Rasiti sebagai Fajar, Iswandi Pratama sebagai ayah Pertiwi, Hargo Sundari sebagai ibu Pertiwi, dan Nagra Kautsar Pakusadewo sebagai Jonet. Kisah tersebut dikembangkan melalui pendekatan drama yang memadukan konflik keluarga, persoalan sosial, dan lanskap alam Pegunungan Tengger.
Perjalanan Empat Musim Pertiwi Menuju Oscar 2027
Kamila Andini mengembangkan gagasan Empat Musim Pertiwi selama bertahun-tahun, dengan penulisan awal dimulai pada 2017 dan pengembangan lebih serius berlangsung sejak 2023. Proses kreatif tersebut membawanya pada cerita yang tidak hanya berfokus pada pengalaman tokoh utama, tetapi juga hubungan antara manusia, lingkungan, dan masyarakat. Kamila mengungkapkan bahwa pengerjaan film ini memberinya pemahaman baru tentang cerita yang sedang ia bangun.
“Film ini merendahkan hati saya dalam berbagai cara. Cerita ini memberikan kesadaran dan pemahaman baru bagi saya,” ujar Kamila. Secara visual, film ini memanfaatkan lanskap Pegunungan Tengger dan Gunung Bromo untuk membangun suasana yang mengikuti perjalanan emosional Pertiwi. Kamila melihat bentang alam tersebut memiliki tekstur visual yang mengingatkannya pada pergantian empat musim, meskipun Indonesia tidak mengalami empat musim seperti negara subtropis.
Sebelum tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026, Empat Musim Pertiwi menjalani pemutaran perdana dunia melalui program Centrepiece di Toronto International Film Festival 2026. Film tersebut juga masuk dalam rangkaian pemutaran festival internasional, termasuk Busan International Film Festival dan Tokyo International Film Festival. Keikutsertaan di berbagai festival menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya Kamila kepada penonton internasional. (RAI)