JAKARTA, AFU.ID — Ratusan wali murid dan warga menggeruduk SD Negeri 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Senin (5/10/2026). Aksi tersebut merupakan buntut dugaan perundungan terhadap seorang siswa kelas 2, MHAQ (7), yang meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Para wali murid mendatangi sekolah untuk meminta kejelasan terkait dugaan perundungan yang dialami MHAQ. Mereka juga mempertanyakan penanganan pihak sekolah terhadap dugaan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah.
MHAQ diketahui meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026) setelah sebelumnya mengeluhkan sakit pada bagian perut. Bocah tersebut sempat menjalani perawatan selama sembilan hari di RSUD dr M Ashari Kabupaten Pemalang. Korban diduga mengalami perundungan oleh kakak kelasnya. Kasus tersebut kemudian memicu keresahan di kalangan orang tua siswa. Salah seorang wali murid, Antika (33), warga Kaligelang, mengaku khawatir dengan adanya dugaan kekerasan di sekolah tersebut. Ia mengatakan anaknya juga pernah mengalami dugaan kekerasan ketika masih duduk di kelas 1. "Sakit, demam. Tapi karena pertama, saya selidiki sendiri. Langsung diam-diam ke sini," ujar Antika.
Antika mengatakan dirinya datang bersama wali murid lainnya untuk memastikan kondisi di sekolah dan mencegah terjadinya kejadian serupa. "Ya, jadi saya resah sebagai orang tua. Akhirnya saya sekalian mantau, barangkali ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya. Kekhawatiran serupa disampaikan Akuyas (45), warga Pemalang. Ia mengaku anaknya yang kini duduk di kelas 4 pernah mengalami dugaan pemalakan oleh kakak kelas ketika hendak menuju kantin. "Ya, anak saya cerita, saat mau ke kantin atau jajan, dipalak kakak kelasnya," ujar Akuyas.
Menurut dia, dugaan pemalakan terhadap siswa bukan hanya dialami anaknya. Ia juga menyebut pernah terjadi kehilangan uang saku milik siswa. "Sering. Terus uang yang disimpan juga banyak yang hilang, uang saku," katanya. Dalam aksi pada Senin tersebut, massa yang didominasi wali murid memadati gerbang sekolah. Mereka meminta pihak sekolah memberikan penjelasan serta bertanggung jawab atas dugaan perundungan yang dialami MHAQ. "Usut tuntas, gurunya seret suruh keluar. Tutup aja sekolahnya, Pak!" teriak salah seorang warga.
Aksi tersebut mendapat pengamanan dari aparat kepolisian. Sejumlah wali murid sempat berusaha masuk ke lingkungan sekolah hingga terjadi aksi saling dorong. Perwakilan massa kemudian diperbolehkan masuk untuk mengikuti audiensi bersama Plt Bupati Pemalang Nurkholes, Plt Kepala Dindikpora Pemalang Ismun Hadiyo, dan pihak sekolah. Nurkholes mengatakan Pemerintah Kabupaten Pemalang tidak akan mentoleransi tindakan perundungan di lingkungan pendidikan. "Kami beraudiensi dengan perwakilan orang tua murid dan berkomitmen untuk tidak mentolerir adanya bullying," kata Nurkholes.
Menurut dia, pemerintah daerah akan mengusut kasus tersebut agar persoalannya menjadi jelas. Ia memastikan proses penanganan kasus dilakukan secara terbuka. "Sudah ada beberapa yang dimintai keterangan oleh polisi dalam masalah ini," ujarnya. Nurkholes juga mengatakan Pemkab Pemalang akan bersikap kooperatif apabila Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turun tangan dalam penanganan kasus tersebut.
Selain menangani kasus yang terjadi, Pemkab Pemalang berencana membuka kanal pengaduan bagi masyarakat. Kanal tersebut dapat digunakan untuk melaporkan dugaan kasus perundungan di lingkungan pendidikan. Warga yang mendatangi sekolah sejak sekitar pukul 09.00 WIB berharap mendapat penjelasan mengenai kasus yang menimpa MHAQ. Namun, dalam audiensi tersebut kepala sekolah disebut tidak terlihat hadir. (EER)