JAKARTA, AFU.ID — Kematian seorang pekerja di sebuah laboratorium penelitian wabah di Siberia, Rusia, memicu kekhawatiran terkait kecelakaan laboratorium penyakit pes. Pemerintah Rusia memberlakukan sejumlah langkah pencegahan, termasuk karantina di beberapa fasilitas kesehatan, meski penyebab pasti kematian pekerja tersebut belum diumumkan secara resmi. Kasus ini mendapat perhatian Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintahnya memantau perkembangan kasus tersebut secara ketat. “Kami memantau dan mengawasinya dengan saksama,” kata Rubio pada Senin (5/10/2026), sebelum bertolak untuk melakukan perjalanan ke Eropa.
Kasus ini bermula ketika, seorang pekerja laboratorium bernama Darya Shipilova, berusia 28 tahun, dilaporkan jatuh sakit saat bekerja di Institut Penelitian Antipes di Kota Irkutsk. Dia meninggal dunia dua hari kemudian, pada malam 2 Oktober, di sebuah rumah sakit regional di Kota Shelekhov, yang berada tidak jauh dari Irkutsk. Hingga kini, belum diketahui secara pasti penyebab Shipilova jatuh sakit. Sejumlah laporan media Rusia menyebutkan dia diduga terinfeksi setelah terjadi insiden di laboratorium tempatnya bekerja. Namun, otoritas Rusia belum menjelaskan lebih lanjut.
Kematian Shipilova diikuti oleh serangkaian tindakan pencegahan di wilayah Irkutsk. Media lokal melaporkan institut tempatnya bekerja ditutup sementara, dengan para pegawai diminta tetap berada di dalam gedung. Seorang kerabat pegawai bernama Roman mengatakan kepada media Siberia.Realities bahwa lebih dari 60 orang telah diisolasi sejak Jumat. Menurut dia, anggota keluarga masih diperbolehkan mengantarkan makanan hingga pos pemeriksaan. Sementara itu, pemeriksaan dan pengujian terhadap orang-orang di dalam gedung terus dilakukan.
Pembatasan serupa dilaporkan diberlakukan di sejumlah rumah sakit di Irkutsk dan sekitarnya. Radio Free Europe/Radio Liberty melaporkan beberapa rumah sakit di wilayah tersebut telah menjalani karantina. Pasien di Rumah Sakit Klinis Kota Irkutsk Nomor 1 dan Rumah Sakit Anak Ivano-Matreninskaya menyebut keluarga mereka tidak diizinkan berkunjung. Orang-orang yang berada di dalam fasilitas tersebut juga dilaporkan tidak diperbolehkan keluar.
Di salah satu rumah sakit bersalin utama di Irkutsk, seorang warga bernama Ulyana Gavryunina mengaku ibunya tidak diizinkan masuk saat mendampinginya menjalani pemeriksaan rutin pada Senin. Petugas kesehatan juga memeriksa gejala yang menyerupai flu dan memintanya mengisi formulir penyaringan penyakit menular. Gavryunina mengunggah foto formulir tersebut ke Instagram, yang mencantumkan penyakit pes sebagai salah satu kemungkinan infeksi yang diperiksa.
Di kawasan industri Shelekhov, pabrik peleburan aluminium setempat juga memberlakukan kewajiban penggunaan masker. Direktur pabrik, Artyom Fominykh, menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah pencegahan. “Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal,” ujarnya. Sejumlah acara publik di Irkutsk juga dilaporkan dibatalkan selama akhir pekan.
Keterangan Russia Berbeda
Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat karena munculnya pernyataan yang berbeda dari sejumlah pejabat Rusia mengenai penyebab kematian Shipilova. Alexey Tsydenov, kepala wilayah Buryatia yang berbatasan dengan Irkutsk, awalnya menulis bahwa Shipilova meninggal akibat penyakit pes. Namun, dia kemudian mengubah pernyataannya menjadi bahwa perempuan tersebut kemungkinan meninggal karena penyakit itu.
Sementara itu, badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan Shipilova meninggal akibat pneumonia yang penyebabnya belum diketahui. Lembaga tersebut menegaskan hasil pemeriksaan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan profesional Shipilova. Rospotrebnadzor juga menyebut situasi sanitasi dan epidemiologi di wilayah tersebut masih stabil.
Otoritas di Kota Baikalsk sempat meminta warga menghindari perjalanan ke Shelekhov dan permukiman sekitarnya berdasarkan informasi tidak resmi mengenai dugaan infeksi pes. Imbauan tersebut kemudian dihapus dari media sosial. Anna Popova, kepala Rospotrebnadzor sekaligus pejabat sanitasi utama Rusia, dilaporkan datang ke Irkutsk pada Jumat. Dia menghadiri rapat darurat komisi sanitasi dan antipidemik untuk membahas dugaan kasus infeksi yang dikategorikan sangat berbahaya.
Gubernur Irkutsk Igor Kobzev kemudian meminta masyarakat tetap tenang. Dia menyatakan seluruh orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan kasus tersebut telah ditempatkan dalam pengawasan medis. “Hingga hari ini, tidak ada seorang pun yang menunjukkan gejala sakit dan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil negatif,” tulis Kobzev di Telegram.
Pernyataan tersebut tidak secara langsung menyinggung laporan mengenai kematian pekerja laboratorium. Jurnalis Elena Trifonova dari media People of Baikal mengatakan aktivitas sehari-hari masyarakat di jalanan belum menunjukkan perubahan mencolok. Meski demikian, warga merasa khawatir karena minimnya informasi resmi. “Penduduk setempat marah karena mereka tidak diberi tahu apa pun,” katanya.
Seberapa Berbahaya Penyakit Pes?
Penyakit pes merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini bertahan secara alami pada populasi hewan pengerat liar dan kutu yang hidup sebagai parasit pada hewan tersebut. Penyakit pes masih ditemukan secara alami di sejumlah wilayah Siberia dan Rusia Timur Jauh. Namun, kasus infeksi pada manusia di Rusia tergolong langka, seperti dikutip The Guardian, Selasa (6/10/2026).
Sebelum dugaan kasus di Irkutsk, infeksi pes terakhir yang tercatat pada manusia di Rusia terjadi pada 2016. Saat itu, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di Republik Altai, Siberia, terinfeksi setelah membantu menyembelih seekor marmot. Tingkat bahaya penyakit ini bergantung pada bentuk infeksinya. Pes dapat menyerang kelenjar getah bening, menyebabkan infeksi pada aliran darah, atau berkembang menjadi pes pneumonik yang menyerang paru-paru.
Bentuk pneumonik menjadi perhatian khusus karena dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan dalam kondisi tertentu. Meski demikian, penyakit pes dapat diobati menggunakan antibiotik, terutama jika penanganan dilakukan sejak dini. Profesor virologi Ian Jones dari University of Reading, Inggris, menilai insiden di Irkutsk kemungkinan merupakan kecelakaan laboratorium yang jarang terjadi dan kecil kemungkinan berkembang lebih jauh. “Kontak dari kasus awal telah diketahui dan dapat diobati jika mereka menunjukkan tanda-tanda infeksi,” kata Jones.
Dia menambahkan, kondisi kehidupan yang dahulu turut mendorong penyebaran pes secara luas tidak lagi umum ditemukan saat ini. Ketersediaan antibiotik juga membatasi potensi penyebaran dan dampak penyakit tersebut. Meski demikian, penilaian tersebut belum memastikan apa yang sebenarnya terjadi di laboratorium Irkutsk.
Kematian Shipilova tak luput dari pantauan AS. Peristiwa ini terjadi di tengah ketegangan hubungan Washington dan Moskow, termasuk tuduhan lama Kremlin mengenai dugaan penelitian senjata biologis oleh Ukraina dengan dukungan AS, yang telah berulang kali dibantah dan dinilai tidak berdasar. Anggota DPR AS dari Partai Republik, Don Bacon, yang merupakan anggota senior Komite Angkatan Bersenjata DPR, turut menyinggung kasus tersebut melalui media sosial.
Dia membandingkan insiden di Rusia dengan tuduhan yang sebelumnya diarahkan kepada Ukraina mengenai keberadaan laboratorium biologis. Namun, hingga saat ini belum ada bukti yang dipublikasikan untuk memastikan bahwa kematian Shipilova disebabkan oleh kecelakaan laboratorium ataupun bahwa telah terjadi penyebaran penyakit pes di dalam fasilitas tersebut. (EER)