JAKARTA, AFU.ID - Suara dentuman keras disertai gemuruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau berulang kali menggelegar hingga ke kawasan pesisir Anyer, Cinangka, hingga Labuan, Banten. Fenomena ini memicu kekhawatiran warga dan wisatawan lantaran getaran dari suara dentuman tersebut terasa cukup kuat hingga menggetarkan kaca serta pintu bangunan di sepanjang pesisir pantai.
Kepopuleran isu ini kerap memicu spekulasi di tengah masyarakat bahwa getaran tersebut bersumber dari pergeseran tanah atau gempa bumi susulan. Namun, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran di Serang menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat secara sains.
Getaran yang merambat hingga ke pemukiman warga murni merupakan fenomena gelombang kejut udara (shockwave) atau tekanan atmosfer. Saat kawah Gunung Anak Krakatau melepaskan erupsi dahsyat dalam bentuk pancuran lava (lava fountain), pelepasan energi gas skala besar menekan udara di sekitarnya secara mendadak. Tekanan udara masif inilah yang kemudian merambat di atmosfer menembus jarak puluhan kilometer hingga menggetarkan benda padat seperti kaca rumah warga di daratan Banten.
"Jadi, bukan dari dentuman gempa bumi atau gerakan tanah, tetapi dentuman rambatan udara yang berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau yang terasa di pesisir Pantai Banten," terang Petugas Pos Pengamatan GAK Pasauran, Muhammad Dika, pada Sabtu (5/9/2026).
Meskipun intensitas lontaran material vulkanik sempat merusak fasilitas kamera pengawas (CCTV) di area gunung, jaringan seismograf mencatat getaran erupsi masih terus berlanjut dengan amplitudo maksimum 47 milimeter. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau warga pesisir untuk tetap tenang, tidak termakan isu liar, serta selalu mematuhi radius aman 3 kilometer dari kawah aktif. (RHU)