JAKARTA, AFU.ID — Lima hari setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), akses darat menuju dua desa di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, masih terputus akibat longsor. Desa Wolokota dan Desa Nila hingga kini menghadapi kendala transportasi yang membuat distribusi bantuan tidak dapat dilakukan melalui jalur darat. Warga dan pemerintah desa sementara harus mengandalkan jalur laut yang bergantung pada ketersediaan kapal serta kondisi cuaca.
Kondisi paling berat terjadi di Desa Wolokota karena jalan dari Reka menuju desa tersebut lumpuh total tertutup material longsor. Kepala Desa Wolokota Yulius Irenius mengatakan pembersihan material belum dilakukan sehingga akses kendaraan belum dapat digunakan. “Kondisi infrastruktur jalan darat dari Reka ke Wolokota lumpuh total karena longsor. Sampai saat ini pihak pemerintah belum melakukan pembersihan,” kata Yulius, Kamis (20/08/2026).
Terputusnya jalan membuat kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa harus diambil dari Kantor Camat sebelum dibawa menuju Wolokota melalui laut. Namun, jalur alternatif tersebut belum sepenuhnya menjamin bantuan dapat segera sampai karena pemerintah desa masih mencari kepastian mengenai kapal motor yang akan mengangkut logistik dari Ende. Jika kapal tidak tersedia, bantuan yang telah disiapkan terancam tertahan dan belum bisa dibawa menuju warga.
“Saya barusan konfirmasi dengan staf desa yang mengambil bantuan. Jawabannya masih cross-check kapal transportasi motor laut, apakah datang atau tidak,” ujar Yulius. Menurut dia, ketersediaan kapal menjadi penentu karena jalur darat belum dapat dilalui sama sekali. Pemerintah desa untuk sementara tidak memiliki alternatif lain yang dapat digunakan secara rutin untuk membawa bantuan.
Selain persoalan distribusi, sebagian warga Wolokota masih memilih bertahan di tenda setelah gempa merusak dan mengguncang permukiman mereka. Yulius memperkirakan sekitar 10 hingga lebih dari 20 orang masih tidur di tenda karena khawatir dengan kondisi rumah masing-masing. Situasi tersebut membuat kepastian pasokan logistik menjadi semakin penting selama akses utama belum kembali terbuka.
Hambatan serupa juga dialami warga Desa Nila yang masih mengandalkan jalur laut untuk mobilitas dan distribusi kebutuhan. Kepala Desa Nila Aleksius Sado mengatakan persoalan transportasi menjadi lebih rumit karena sebagian warga masih menyimpan kekhawatiran terhadap potensi tsunami ketika harus menggunakan laut. Meski demikian, persediaan logistik di desa tersebut diperkirakan masih mencukupi kebutuhan masyarakat untuk beberapa hari ke depan.
“Transportasi agak macet karena lewat laut. Kami juga takut tsunami,” kata Aleksius. Kekhawatiran itu menunjukkan bahwa jalur laut yang kini menjadi alternatif bukan tanpa kendala bagi masyarakat terdampak. Pemerintah desa tetap berupaya memastikan kebutuhan dasar tersedia sembari menunggu akses darat kembali dapat digunakan.
Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus telah memicu longsor dan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah. Di Wolokota dan Nila, dampak lanjutan kini terlihat pada terhambatnya mobilitas warga serta distribusi bantuan beberapa hari setelah bencana. Pembukaan kembali akses darat menjadi kebutuhan mendesak agar penyaluran logistik tidak terus bergantung pada kapal dan kondisi laut. (RHU)