JAKARTA, AFU.ID — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Jarak pandang di kota paru-paru dunia tersebut tercatat menurun drastis hingga berkisar 500-4 ribu meter pada periode 30-31 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan mencatat kondisi terburuk terjadi pada malam hari, ketika jarak pandang bahkan sempat anjlok hingga hanya 500 meter.
Prakirawan BMKG Tanjung Harapan, Agus Ariyanto, menjelaskan penurunan jarak pandang ekstrem tersebut turut diperparah oleh munculnya kabut akibat kelembapan udara yang tinggi serta angin yang sangat lemah pada malam hari. “Secara sederhana, kondisi asap yang persisten didukung oleh adanya titik panas (hotspot) di beberapa wilayah dan angin yang lemah, sehingga asap cenderung bertahan dan menyebabkan jarak pandang menurun, terutama pada malam hingga dini hari,” katanya, Senin (31/8/2026).
Pemantauan satelit pada periode yang sama turut mendeteksi sejumlah hotspot yang tersebar di wilayah Kaltara, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten Bulungan, khususnya di kawasan Tanjung Palas Timur dan sekitarnya. Beberapa titik panas lain juga terpantau di Malinau dan Nunukan. Sementara itu, peluang turunnya hujan dalam sepekan ke depan dinilai masih sangat kecil dan hanya bersifat lokal dengan intensitas ringan.
Berdasarkan Laporan Ringkasan Operasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) per Minggu 30 Agustus 2026, pukul 07.00 WIB, tercatat 93 laporan kejadian karhutla yang tersebar di 12 provinsi. Dari jumlah tersebut, 33 lokasi telah berhasil dipadamkan, sementara 60 lokasi lainnya masih dalam proses penanganan.
Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan penanganan terbanyak, yakni 21 lokasi, disusul Kalimantan Barat dengan 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi 9 lokasi, Riau 8 lokasi, dan Kalimantan Timur 7 lokasi.
Penanganan serupa juga dilakukan di Sulawesi Tenggara sebanyak tiga lokasi, Sulawesi Selatan dua lokasi, dan masing-masing satu lokasi di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, serta Sulawesi Tengah. Secara akumulatif sepanjang 2026, tim gabungan telah melakukan 4.8 ribu kali operasi penanganan karhutla dengan total luas areal terdampak yang berhasil ditangani mencapai 38 ribu hektare. (NAD)