Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Industri Gim Nasional Tembus Rp34 Triliun, Integrasi Esports Buka Pasar Baru
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Industri gim nasional Indonesia diproyeksikan mencapai nilai pasar hingga Rp34 triliun per tahun, menjadikannya sektor penting dalam ekonomi kreatif digital. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden untuk mempercepat pengembangan sektor ini, yang diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri gim dan esports global. Selaras dengan itu, integrasi antara industri gim, esports, dan komunitas UMKM diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ilustrasi industri gim nasional dan esports. (Foto: Magnific/DC Studio)
JAKARTA, AFU.ID — Industri gim nasional berkembang menjadi bagian penting ekonomi kreatif (ekraf) digital, seiring dengan meningkatnya potensi pasar dan talenta lokal. Pemerintah Republik Indonesia (RI) pun melihat sektor ekraf mempunyai peluang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang lebih inklusif. Potensinya semakin besar apabila terintegrasikan dengan komunitas, electronic sports (esports), Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pelaku ekraf lainnya.
Proyeksi nilai pasar gim nasional dapat mencapai USD2 miliar yang setara dengan Rp31,6 triliun hingga Rp34 triliun per tahun. Angka itu berdasarkan riset Kementerian Ekraf RI, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Besarnya pasar menunjukkan, industri gim mempunyai ruang dan manfaat ekonomi yang jauh melampaui fungsi hiburan semata.
Oleh karenanya, Pemerintah RI menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional. Pada 2026, industri gim bahkan menjadi salah satu dari tujuh subsektor prioritas ekraf nasional. Penetapan itu berdasarkan potensi nilai tambah dan kemampuan sektor gim dalam menyerap tenaga kerja.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM) RI, Muhaimin Iskandar menyatakan penguatan ekosistem menjadi kebutuhan untuk mengoptimalkan potensi ekraf digital. Kementeriannya pun siap membuka fasilitas ruang publik seperti Pos Bloc serta pusat komunitas untuk mendukung aktivitas pelaku kreatif. “Apa yang bisa dibantu akan kita maksimalkan, mulai dari memperkuat ekosistem, menciptakan peluang bagi tumbuhnya ekraf, hingga menyinergikan kebutuhan,” ungkapnya, Kamis (20/8/2026).
Potensi ekonomi tersebut juga terlihat dari kemampuan talenta lokal menghasilkan produk yang sesuai dengan minat pasar internasional. Ketua Umum Indonesia E-Aport Association (Ketum IESPA), Ibnu Sulistyo Pradipto mencontohkan Fazrul dari Bandung yang mengembangkan demo gim sebagai tugas kuliah. Hanya dengan modal Rp68 juta, karyanya berhasil terjual kepada pengembang Australia dengan nilai USD3 juta atau setara Rp53,39 miliar.
Kisah tersebut memberikan gambaran mengenai peluang ekonomi yang dapat tercipta ketika talenta lokal memperoleh akses pengembangan dan pasar. Namun, keberhasilan individual perlu ditopang ekosistem agar peluang serupa dapat tereplikasi oleh lebih banyak pengembang. Kebutuhan itu membuat pembinaan talenta menjadi bagian penting dalam pengembangan industri gim nasional.
Sinergi Industri Gim Nasional Bentuk Ekosistem Ekonomi Baru
Lebih lanjut, Menko Muhaimin menjelaskan industri gim nasional mempunyai peluang memperluas dampak ekonomi melalui integrasi dengan ekosistem esports. Pasalnya, keramaian komunitas esports dapat terintegrasikan dengan program pemberdayaan UMKM dan pelaku ekraf lokal. Harapannya, langkah itu dapat menciptakan aktivitas ekonomi tambahan di sekitar komunitas pemain dan penggemar.
Muhaimin Iskandar pun mendorong sinergi tersebut melalui sejumlah program Kemenko PM RI, seperti Jejak Jajanan Nusantara, Seribu Satu Pasar Rakyat, dan Perintis Berdaya. Konsepnya adalah mempertemukan aktivitas komunitas esports dengan pelaku UMKM pada berbagai kegiatan. Dengan demikian, keramaian komunitas tak hanya menghasilkan aktivitas digital, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi lokal.
Sementara itu, IESPA juga menilai integrasi lintas sektor sangat penting untuk membangun ekosistem yang lebih berkelanjutan. Kolaborasinya mencakup pemerintah, industri, komunitas, penerbit gim, hingga pelaku ekonomi kreatif. “Dampak bagi anak-anak muda ini luar biasa, apalagi jika dibangun gaming hub sebagai markas kreativitas mereka karena potensi talenta lokal kita sangat besar,” tutur Ibnu Sulistyo Pradipto.
Oleh karenanya, oengembangan industri gim nasional tak cukup hanya dengan mengejar pertumbuhan nilai pasar domestik. Pemerintah perlu memastikan talenta lokal memperoleh ruang produksi, pembinaan, akses komunitas, serta kesempatan menembus pasar internasional. Integrasi dengan esports dapat menjadi salah satu jalur untuk mempertemukan produk gim, talenta, komunitas, dan aktivitas ekonomi dalam satu ekosistem.
Sinergi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam industri gim dan esports global. Jika ekosistem mampu menghubungkan talenta dengan industri maupun pasar secara konsisten, potensi USD2 miliar dapat menjadi basis pertumbuhan yang lebih luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi pasar benar-benar menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan peluang ekonomi bagi pelaku lokal. (ADR)