JAKARTA, AFU.ID — Utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem, Senin (17/8/2026). Pertemuan itu berlangsung sehari setelah dirinya melakukan pertemuan langka dengan pimpinan Hamas di Mesir untuk mendorong kembali rencana perdamaian Gaza yang hingga kini masih menemui penolakan Israel.
Pertemuan Kushner dengan Netanyahu menjadi penting karena posisi Washington, Hamas, dan pemerintah Israel masih berseberangan dalam sejumlah isu utama, terutama mengenai pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta siapa yang akan mengelola wilayah tersebut setelah perang.
Sehari sebelumnya, Kushner bertemu pemimpin politik Hamas Khalil al-Hayya di Alamein, Mesir. Pertemuan tersebut juga dihadiri utusan Board of Peace Nickolay Mladenov dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Sejumlah pejabat Mesir, Qatar dan Turki turut terlibat dalam rangkaian pembicaraan tersebut.
Salah satu agenda utama pembicaraan adalah bagaimana menerjemahkan peta jalan perdamaian Trump menjadi langkah konkret, terutama terkait masa depan pemerintahan Gaza dan status persenjataan Hamas. Washington menginginkan Hamas benar-benar melepaskan peran pemerintahan di Gaza serta membongkar persenjataan dan infrastruktur militernya. Pemerintahan Gaza nantinya akan dialihkan kepada sebuah komite Palestina yang bersifat teknokratis.
Kushner juga disebut mendesak Hamas agar segera melakukan pelucutan senjata. Persoalan tersebut menjadi salah satu tuntutan utama Israel sebelum bersedia menarik pasukannya dari Gaza. Hamas sendiri menyatakan tetap menerima kerangka peta jalan tersebut, tetapi meminta Amerika Serikat menekan Israel agar memenuhi kewajibannya terlebih dahulu. Hamas menuduh Israel masih melakukan pelanggaran gencatan senjata dan meminta penghentian serangan serta penarikan pasukan Israel sebelum proses berikutnya berjalan.
Kushner kini membawa hasil pembicaraan dengan Hamas ke Netanyahu. Fokusnya adalah mencari titik temu agar peta jalan Trump yang telah diterima secara prinsip oleh Hamas dapat dijalankan, meski Israel sebelumnya menolaknya. Netanyahu menegaskan tidak akan menarik pasukan Israel dari Gaza sampai Hamas benar-benar dilucuti. Sikap tersebut menjadi salah satu alasan utama implementasi rencana Trump mengalami kebuntuan.
Israel juga keberatan terhadap tuntutan Washington agar operasi pembunuhan terhadap anggota Hamas dihentikan. Pemerintah Netanyahu menilai ancaman Hamas belum hilang selama kelompok tersebut masih memiliki kemampuan militer. Karena itu, pertemuan Kushner dan Netanyahu tak hanya membahas gencatan senjata. Washington sedang mencoba mencari formula agar dua tuntutan yang saling berseberangan itu bertemu. (EER)