JAKARTA, AFU.ID— Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendesak para guru Indonesia tidak menyerah menghadapi gempuran perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Gibran menegaskan guru yang menguasai Artificial Intelligence atau AI akan memiliki kekuatan super dalam mendidik, sekaligus memiliki lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid.
Pernyataan itu disampaikan Gibran secara khusus kepada para tenaga pendidik di seluruh Indonesia. Ia mengakui ada rasa canggung dan kekhawatiran di kalangan guru saat berhadapan dengan teknologi yang berkembang begitu cepat. Namun, ia menegaskan kondisi itu bukan alasan untuk berhenti belajar.
"Saya harap para guru tidak pernah menyerah untuk meningkatkan kemampuan diri. Katanya, guru yang menguasai AI akan memiliki kekuatan super untuk mendidik dengan lebih efektif," ujar Gibran, dikutip dari YouTube Gibran TV, Rabu (16/6/2026).
Lebih lanjut, Gibran merinci sejumlah manfaat konkret AI bagi guru di dalam kelas. Teknologi itu menurutnya, bisa membantu menyusun pertanyaan, menyajikan penjelasan yang lebih sederhana dan menarik bagi murid, hingga menghadirkan contoh kasus yang membuat materi lebih mudah diserap. Dengan beban administratif yang terpangkas, Gibran mengungkapkan guru bisa mencurahkan lebih banyak energi untuk mendampingi tumbuh kembang karakter murid.
Pesan senada Gibran sampaikan kepada para orang tua. Ia memperingatkan jangan sampai anak-anak melompat jauh ke dunia teknologi sementara orang tua tidak tahu apa yang diakses sang anak. "Jangan sampai anak-anak kita terbang tinggi dengan teknologi, tapi kita sebagai orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses," tegasnya.
Di sisi lain, Gibran mengingatkan penguasaan AI harus diiringi kesadaran etika. Tanpa etika, Gibran mengatakan kecerdasan buatan bisa berbalik menjadi alat yang merusak. Ia menyebut AI berpotensi disalahgunakan untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme, hingga melanggar privasi orang lain."Teknologi tanpa etika itu berbahaya. Pemanfaatan AI harus didasari oleh nilai-nilai integritas," katanya.
Lebih jauh, kepada para pelajar, Gibran menegaskan AI adalah alat untuk mempercepat belajar, bukan jalan pintas yang mematikan daya pikir. Ia juga menyoroti peluang besar dari banyaknya teknologi AI canggih yang kini tersedia secara gratis melalui platform open source, dan menyebutnya sebagai kesempatan emas bagi talenta muda Indonesia.
Gibran turut mengungkapkan pemerintah Indonesia telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology untuk AI yang disusun UNESCO, sebuah instrumen untuk mengukur kesiapan dan tata kelola AI nasional sesuai panduan etika internasional.
Ia menutup pesannya dengan pembagian tugas yang tegas. Pemerintah bertanggung jawab menyiapkan ekosistem, sementara setiap individu wajib mempersiapkan kapasitas diri masing-masing. “Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya, mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat," pungkas Gibran. (NAD)