JAKARTA, AFU.ID - Pemerintah memangkas pagu anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada APBN Tahun Anggaran 2026 dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Keputusan tersebut merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna memastikan pengelolaan dana yang lebih efektif dan efisien melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa hingga 30 April 2026, realisasi penyaluran dana program MBG telah mencapai Rp75 triliun. Penyerapan ini berhasil menjangkau 61,96 juta penerima manfaat melalui dukungan 27.952 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“MBG sudah mencapai Rp75 triliun, itu 22,4 persen dari APBN yang sebesar Rp335 triliun. Tapi nanti bukan Rp335 triliun. Ada penghematan tertentu sesuai dengan instruksi Presiden, sehingga dana Badan Gizi Nasional (BGN) bisa dipakai lebih efektif dan efisien,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Menkeu memberikan sinyal bahwa pemerintah tengah memperbaiki manajemen program serta tata cara pembelanjaan anggaran di BGN, yang membuka peluang adanya efisiensi lanjutan ke depan. Kendati demikian, fokus utama pemerintah tetap menjaga agar esensi program bantuan makanan ini tidak terganggu.
“Presiden sedang menghitung bagaimana yang terbaik penghematannya tanpa mengganggu efektivitas program itu sendiri dalam hal memberi makan murid-murid sekolah. Yang penting itu,” tuturnya.
Di saat yang sama, Kementerian Keuangan melaporkan belanja negara tumbuh signifikan sebesar 34,3 persen mencapai Rp1.082,8 triliun, atau setara 28,2 persen dari total target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Lonjakan ini didorong oleh belanja pemerintah pusat yang tumbuh 51,1 persen menjadi Rp826 triliun, sebagai hasil dari strategi pemerataan penyaluran belanja sepanjang tahun.
Secara rinci, belanja kementerian/lembaga (K/L) tumbuh 57,9 persen menjadi Rp400,5 triliun, sedangkan belanja non-K/L tumbuh Rp45,2 triliun menjadi Rp425,5 triliun. Sementara itu, pendapatan negara tercatat tumbuh 13,3 persen dengan realisasi senilai Rp918,4 triliun, sehingga defisit APBN per 30 April 2026 berada di angka Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). (FAD)