JAKARTA, AFU.ID - Dalam episode terbaru Akbar Faizal Uncensored, jurnalis senior Akbar Faizal berbincang panjang dengan Andi Widjajanto, mantan Gubernur Lemhannas dan eks Menseskab, membedah dinamika konflik Iran–Israel serta peran kekuatan besar dunia di baliknya.
Diskusi mengalir dari satu pertanyaan kunci: benarkah Iran unggul secara militer dalam eskalasi 2025? Atau ada variabel lain yang luput dari perhatian publik?
Kekuatan Persenjataan dan Strategi Asimetrik
Menurut Andi Widjajanto, persepsi bahwa Iran “menang” dalam pertukaran serangan tidak bisa dilepaskan dari kemampuan teknologi militernya yang berkembang signifikan.
Iran dinilai telah memiliki:
Precision Guided Munition (PGM) dalam jumlah besar
Drone dengan sistem kendali presisi
Kapasitas rudal yang mampu memaksa sistem pertahanan seperti Iron Dome bekerja ekstra
Meski tidak sepenuhnya menembus sistem pertahanan Israel, setiap rudal yang diluncurkan Iran memaksa intersepsi berbiaya tinggi. Di sinilah konsep perang asimetrik bekerja.
Satu rudal relatif murah dari Iran bisa memaksa intersepsi yang biayanya berkali lipat.
Dalam logika militer modern, ini bukan sekadar soal menghantam target—melainkan menguras ekonomi lawan. Israel, bahkan didukung Amerika Serikat, harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar untuk mempertahankan wilayahnya dibanding biaya yang dikeluarkan Iran untuk menyerang.
Peran Tersirat Rusia dan Cina
Meski tidak terlibat langsung, nama Cina dan Rusia tak bisa dilepaskan dari kalkulasi geopolitik.
Iran tidak berdiri sendirian dalam arsitektur kekuatan global. Dukungan tidak selalu berbentuk militer langsung, tetapi bisa melalui:
Andi menyebut, minyak Iran tetap mengalir—meski di bawah tekanan embargo Amerika Serikat. Cina menjadi salah satu pembeli utama, selain India dan beberapa negara Afrika.
Selat Hormuz: Kartu Strategis yang Tak Dimainkan
Salah satu skenario paling mengkhawatirkan dunia adalah penutupan Selat Hormuz. Jalur sempit selebar sekitar 33 kilometer ini menjadi nadi distribusi energi global.
Namun skenario itu tak pernah terjadi.
Mengapa?
Karena Iran sendiri membutuhkan jalur tersebut untuk mengekspor minyaknya. Dengan biaya produksi yang sangat rendah—diperkirakan hanya beberapa dolar per barel—dan harga global jauh di atasnya, minyak menjadi tulang punggung daya tahan ekonomi Iran.
Menutup Selat Hormuz berarti memukul diri sendiri.
Mengapa Fasilitas Minyak Iran Tidak Dibombardir?
Andi Widjajanto menyoroti satu hal penting: Amerika Serikat tidak menghancurkan fasilitas minyak Iran.
Ini bukan tanpa alasan.
Sejarah mencatat, saat Saddam Hussein mundur dari Kuwait pada 1991, ia membakar fasilitas minyak, menciptakan kerusakan besar dan beban ekonomi jangka panjang. Amerika Serikat tampaknya belajar dari pengalaman itu.
Logikanya sederhana:
Jika suatu saat Iran berdamai atau bernegosiasi, infrastruktur energinya masih utuh dan bisa menjadi aset strategis baru dalam konfigurasi politik global.
Amerika Serikat dan Tradisi Operasi Militernya
Dalam refleksinya, Andi bahkan menyebut bahwa sejak kemerdekaannya pada 1776, Amerika Serikat telah melakukan ratusan operasi militer di berbagai belahan dunia.
Narasi ini memperlihatkan bagaimana konflik Iran–Israel bukan sekadar duel dua negara, tetapi bagian dari dinamika panjang politik global yang melibatkan kepentingan energi, ekonomi, dan keseimbangan kekuatan.
Membaca Ulang Persepsi “Kemenangan”
Apakah Iran benar-benar menang?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Yang terlihat di permukaan adalah kemampuan bertahan dan menyerang dengan teknologi yang makin presisi. Namun di balik itu, terdapat kalkulasi ekonomi, diplomasi energi, dan keseimbangan global yang jauh lebih kompleks.
Perang modern bukan hanya soal ledakan dan rudal.
Ia tentang biaya.
Tentang logistik.
Tentang minyak.
Tentang siapa yang sanggup bertahan paling lama.
Dan dalam diskusi tersebut, satu hal menjadi jelas: geopolitik abad ke-21 adalah permainan panjang, bukan sekadar duel sesaat. (*)