JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali merecoki Venezuela usai tak kunjung menang dari Iran.
Kepada Fox News pada Senin pagi waktu AS, Trump kembali mengirim sinyal untuk mencaplok negara Amerika Latin tersebut.
Ia bahkan sangat serius mempertimbangkan langkah untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian yang ke-51.
Setelah penangkapan Nicolas Maduro pada Januari 2026 lalu, jajaran pejabat Gedung Putih berulang kali menuju Caracas.
Mereka coba menjalin hubungan erat dengan Penjabat (Pj) Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez beserta pemerintahannya.
Di saat yang sama, AS juga menengahi kesepakatan dengan perusahaan energi dan pertambangan minyak di Venezuela.
Hal tersebut semakin penting seiring meningkatnya konflik dengan Iran di Selat Hormuz yang sangat memengaruhi pasokan energi global.
Meski begitu, Donald Trump secara hukum tak dapat menyatakan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS.
Ia membutuhkan persetujuan kongres maupun Venezuela, sehingga tak mengesampingkan kemungkinan intervensi militer.
Melansir The Independent, Selasa (12/6/2026), Olivia Wales selaku Asisten Sekretaris Pers Gedung Putih menyampaikan bahwa hubungan dengan Venezuela sangat istimewa.
“Minyak mulai mengalir dan sejumlah besar uang yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun, akan segera membantu rakyat Venezuela yang hebat,” ungkapnya.
“Hanya Trump yang pantas diberi pujian atas revitalisasi kemitraan baru ini dan yang terbaik masih akan datang!,” sambung Olivia Wales.
Bahkan, Donald Trump dalam wawancara di kanal Full Measure menyatakan bahwa Venezuela akan segera menjadi negara yang sangat bahagia.
“Dulu mereka sengsara, sekarang bahagia, semuanya berjalan dengan baik,” tutur Trump pada 10 Mei 2026 lalu.
“Minyak yang dihasilkan sangat banyak, terbesar dalam beberapa tahun terakhir,” tambah Presiden AS ke-45 dan ke-47 ini.
Sikap Tegas Pj Presiden Venezuela
Menyikapi ambisi besar Donald Trump, Pj Presiden Delcy Rodriguez menegaskan bahwa Venezuela ogah menjadi negara bagian AS.
Delcy menjelaskan, Venezuela akan terus membela nilai integritas, kedaulatan, kemerdekaan, sejarah tanah airnya.
“Venezuela bukanlah sebuah koloni, tetapi negara merdeka,” ujarnya dikutip dari AP News.
Meski begitu, Delcy belum mengumumkan secara terbuka jadwal pemilihan umum (pemilu) untuk memilih presiden definitif Venezuela.
“Pemilihan akan terjadi suatu saat nanti,” papar Pj Presiden Venezuela.
Sikap tersebut lantas menimbulkan kekhawatiran bahwa Washington telah mengingkari janji kepada Caracas.
Yang mana, AS berencana membawa Venezuela sebagai negara demokratis pascapenangkapan Nicolas Maduro.
Terlebih lagi, Donald Trump menegaskan bahwa Washington akan ‘mengelola’ Caracas tanpa batas waktu.
“Kita sedang dalam fase stabilitas,” ucap Penasihat Energi Utama Trump, Jarrod Agen kepada Politico.
“Dan itu sebenarnya tentang kesepakatan energi dan mendapatkan dana untuk kegiatan sehari-hari Venezuela,” lanjutnya.
Sebagai informasi, AS telah membuka kembali kedutaan besarnya di Caracas pada Maret 2026.
Negeri Paman Sam bahkan turut mengaktifkan penerbangan langsung ke Venezuela per bulan April kemarin. (ADR)