JAKARTA, AFU.ID – Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi menimbulkan guncangan besar bagi perekonomian global. Indonesia pun diminta bersiap menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang dapat muncul akibat eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengingatkan bahwa dunia saat ini berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, pertikaian antar kekuatan besar dapat menyeret negara-negara lain ke dalam dampak ekonomi dan geopolitik yang luas.
“Dunia berada dalam keadaan penuh bahaya. Kekuatan-kekuatan besar sedang bertikai dan ini bisa menyeret bangsa-bangsa lain ke dalam keadaan yang sulit,” ujar Prabowo dalam pernyataannya.
Ia menegaskan Indonesia tidak bisa berpura-pura bahwa situasi global tersebut tidak akan berdampak pada kondisi nasional. Karena itu, pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat muncul.
“Kita harus berani menghadapi kesulitan. Kita tidak menutup-nutupi kesulitan dan tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja,” tegasnya.
Pengamat menilai konflik Iran bukan lagi sekadar persoalan geopolitik regional, tetapi telah berkembang menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi dunia. Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor, terutama energi dan pangan.
Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan hampir seperlima pasokan minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut dapat langsung mendorong lonjakan harga energi global.
Sejak memanasnya konflik pada akhir Februari lalu, harga minyak dunia dilaporkan melonjak tajam dari kisaran di bawah 70 dolar AS per barel menjadi mendekati 120 dolar AS. Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga dapat menembus 150 hingga 200 dolar AS jika konflik berkepanjangan.
Lonjakan harga energi tersebut tidak hanya memengaruhi sektor industri dan transportasi, tetapi juga dapat meningkatkan biaya produksi pangan melalui kenaikan harga pupuk. Sekitar 30 persen perdagangan pupuk global diketahui melewati jalur Selat Hormuz.
Jika distribusi pupuk terganggu, dampaknya dapat memicu kenaikan harga pangan di berbagai negara, terutama di negara berkembang yang bergantung pada impor bahan baku pertanian.
Sejumlah negara bahkan mulai mengambil langkah darurat untuk menghemat energi. Beberapa negara Asia membatasi perjalanan dinas pegawai pemerintah, mendorong kerja dari rumah, hingga mengubah sistem kerja menjadi empat hari dalam sepekan guna menekan konsumsi energi.
Bagi Indonesia, dampak konflik ini juga tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi dan bahan baku pupuk, kenaikan harga global berpotensi menekan anggaran negara serta meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Situasi tersebut dapat menempatkan pemerintah dan Bank Indonesia dalam dilema kebijakan antara menjaga stabilitas harga atau mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, sejumlah analis menilai ekonomi global masih memiliki kemampuan untuk bertahan dari guncangan besar seperti yang pernah terjadi dalam krisis sebelumnya.
Namun satu faktor yang menentukan adalah lamanya konflik berlangsung. Jika perang berlarut-larut, dampaknya terhadap ekonomi dunia diperkirakan akan semakin luas.
Dalam konteks ini, peringatan Presiden Prabowo dinilai relevan. Ia menegaskan bahwa menghadapi tantangan global seperti ini memerlukan kekompakan seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat luas.
Persatuan nasional dan kesiapan menghadapi perubahan global dinilai menjadi kunci agar Indonesia mampu melewati tekanan ekonomi dunia dengan lebih kuat. (bs)