JAKARTA, AFU.ID — Sebuah operasi teknis penuh kehati-hatian berlangsung di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda, Minggu (27/6/2026). Seperti dilansir pihak Kedutaan Belanda di Amerika Serikat, tujuh insinyur militer dari divisi 11 Airmobile Engineer Company dikerahkan secara khusus untuk merancang konstruksi penopang guna mengangkat dan memindahkan sebuah objek sejarah bernilai amat tinggi, sebuah meriam perunggu raksasa asal Aceh seberat 6.300 kilogram.
Artileri bernilai sejarah tinggi yang dikenal dengan nama Peperstuk atau Pepper Piece ini dipindahkan sementara ke area aula museum di tengah proses renovasi dan penataan ulang ruang pameran. Meriam berkaliber 19 sentimeter dengan panjang melampaui 4 meter tersebut bukan sekadar material perang biasa. Objek masif buatan abad ke-17 ini merupakan simbol persahabatan serta diplomasi antarbangsa antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kekaisaran Utsmaniyah (Turki Ottoman).
Catatan sejarah Museum Bronbeek merekam bahwa meriam megah ini dikirimkan sebagai hadiah diplomasi dari Sultan Turki Utsmaniyah kepada Sultan Aceh pada tahun 1631, sebagai bentuk pengakuan serta ikatan persekutuan strategis di kawasan Samudra Hindia. Julukan Peperstuk atau "Potongan Lada" melekat pada meriam ini bukan tanpa alasan historis.
Nama tersebut mengakar kuat pada kejayaan ekonomi Kesultanan Aceh pada masa itu yang menempatkan wilayahnya sebagai salah satu produsen dan pemasok utama komoditas lada dunia. Lada menjadi komoditas emas hitam yang menghubungkan para pedagang serta utusan kerajaan dari Eropa, Timur Tengah, hingga Asia Timur di pelabuhan-pelabuhan Aceh.
Perjalanan meriam perunggu ini berbelok tajam pada akhir abad ke-19 ketika pecah Perang Aceh (1873–1913). Usai pertempuran sengit yang menelan banyak korban, armada kolonial Belanda memboyong artileri raksasa ini dari tanah Aceh sebagai barang rampasan perang menuju Eropa. Sejak tahun 1998, meriam bersejarah ini resmi menjadi bagian dari koleksi pameran permanen Museum Bronbeek—museum yang menyimpan barisan Artefak Kolonial dan memori ketentaraan Belanda di Hindia Belanda.
Proses pemindahan meriam berbobot lebih dari 6 ton ini membuktikan rumitnya perawatan benda cagar budaya berusia ratusan tahun. Lantaran ukurannya yang amat besar dan kondisi material perunggu yang kian rapuh tergerus usia, para insinyur militer harus menghitung secara presisi distribusi beban agar struktur meriam tidak mengalami keretakan. Setelah proses renovasi gedung rampung, Peperstuk akan kembali dipindahkan ke lokasi pameran utamanya.
Dari bumi Serambi Mekkah, menyeberangi lautan menuju Kekaisaran Utsmaniyah di Turki, hingga akhirnya berlabuh di museum Arnhem, Belanda. Meriam Peperstuk berdiri sebagai saksi bisu kemegahan diplomasi internasional, kejayaan perdagangan lada, serta dinamika sejarah panjang Kesultanan Aceh di panggung dunia. (MAR)