JAKARTA, AFU.ID — Perang justru membuat industri pertahanan Iran dipacu bekerja lebih keras. Kementerian Pertahanan Iran mengklaim produksi senjata dan berbagai peralatan pertahanan meningkat hingga dua kali lipat dalam periode Juli 2025 hingga Juli 2026, meski sejumlah fasilitas industri pertahanan sempat menjadi sasaran serangan musuh. Klaim tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, dalam wawancara dengan Chanel Khabar TV Nasional Iran yang dilaporkan Mehr News Agency, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Talaei-Nik, kerusakan pada fasilitas pertahanan tidak membuat roda produksi berhenti. Justru setelah perang yang disebut pemerintah Iran sebagai “perang yang dipaksakan ketiga” dimulai pada 28 Februari 2026, produksi sejumlah kebutuhan strategis dan perlengkapan yang diprioritaskan untuk kebutuhan perang meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal. Angka tersebut menjadi salah satu klaim penting Teheran untuk menunjukkan bahwa serangan terhadap infrastruktur pertahanan tidak otomatis memutus kemampuan Iran memasok kebutuhan militernya. Pemerintah Iran menyatakan sistem produksinya dirancang dengan jaringan industri yang tersebar sehingga kerusakan pada satu atau beberapa fasilitas tidak langsung melumpuhkan keseluruhan rantai produksi.
Pola tersebut menjadi semakin penting ketika perang meningkatkan konsumsi persenjataan dan amunisi dalam jumlah besar. Talaei-Nik mengatakan proses produksi pengganti sudah berjalan ketika persenjataan digunakan di medan perang. Dengan pola produksi berkelanjutan tersebut, kebutuhan yang telah digunakan dapat segera digantikan. Sistem itu juga ditopang oleh cadangan yang telah disiapkan sebelumnya serta persediaan strategis yang dapat digunakan ketika terjadi peningkatan kebutuhan secara mendadak.
Faktor lain yang disebut berperan adalah penerapan prinsip pertahanan pasif dalam pengelolaan fasilitas industri. Konsep tersebut antara lain bertujuan mengurangi kerentanan fasilitas strategis terhadap serangan serta memastikan aktivitas penting tetap dapat berjalan ketika sebagian infrastruktur mengalami kerusakan. Ia menggambarkan perubahan kemampuan industri pertahanan Iran sebagai sebuah “revolusi industri”. Ia mengutip pesan Mayor Jenderal Abdollahi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata sekaligus Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, yang menyebut perkembangan sektor tersebut telah mencapai tahap yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
Pejabat Iran menilai pengalaman perang, kebijakan pemerintah, kapasitas industri nasional dan keterlibatan berbagai sektor ekonomi telah membentuk fondasi produksi pertahanan yang lebih mandiri. Iran selama bertahun-tahun memang berupaya mengembangkan kemampuan produksi persenjataan di dalam negeri. Tekanan sanksi dan keterbatasan akses terhadap sejumlah teknologi serta komponen dari luar membuat Teheran mengembangkan basis manufaktur domestik untuk berbagai kebutuhan militer.
Strategi tersebut menjadi semakin relevan ketika Iran menghadapi perang dan ancaman serangan terhadap fasilitas strategisnya. Ketergantungan terhadap satu pusat produksi akan membuat sistem pertahanan rentan apabila fasilitas tersebut dihancurkan. Sebaliknya, jaringan produksi yang tersebar memungkinkan sebagian kegiatan tetap berlangsung meskipun ada fasilitas yang mengalami kerusakan. Kementerian Pertahanan Iran memasang target lebih tinggi. Produksi senjata dan peralatan pertahanan ditargetkan meningkat hingga tiga kali lipat. Untuk sektor tertentu, peningkatan produksi diproyeksikan mencapai empat hingga lima kali lipat. (EER)