JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana perang dagang untuk melumpuhkan perekonomian Iran. Rencana yang disebut Trump sebagai “Economic D-Day” itu disebut sebagai operasi ekonomi paling mematikan sepanjang masa. Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengatakan Washington akan melancarkan “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Iran. AS juga mengancam negara mana pun yang membantu Teheran menghindari sanksi juga bakal menjadi sasaran pelemahan ekonomi.
Trump mengeklaim Iran telah kehilangan sebagian besar kemampuan militernya dan mata uang negara tersebut telah sangat hancur. Istilah “Economic D-Day”, dapat dipahami secara sederhana sebagai upaya untuk melakukan tekanan ekonomi secara besar-besaran dan serentak terhadap Iran. Washington ingin memutus berbagai jalur yang selama ini memungkinkan Iran tetap melakukan perdagangan, memperoleh pendapatan, dan mengakses sistem keuangan internasional.
Beberapa sumber saluran ekonomi Iran akan diputus, mulai dari penyelundupan minyak, jalur pertukaran mata uang, transfer uang tunai, perusahaan penukaran valuta asing, registrasi kapal, hingga perusahaan cangkang. Ia juga memperingatkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, maupun institusi pemerintah dari negara lain yang memberikan “jalan keluar” bagi Iran. Tidak ada negara yang akan diperbolehkan membantu Iran mempertahankan hubungan ekonomi dengan dunia internasional.
Kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari kampanye tekanan ekonomi pemerintahan Trump yang sejak April menggunakan nama Operation Economic Fury. Kampanye itu ditujukan untuk memutus apa yang disebut Washington sebagai sumber pendanaan terorisme dan aliran pendapatan global pemerintah Iran. Namun, ancaman tersebut langsung ditolak Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan ancaman “Economic D-Day” adalah alat pengalihan isu Trump dari persoalan ekonomi AS yang sedang tidak baik-baik saja.
Araghchi menilai memperkuat kebijakan yang sebelumnya gagal hanya akan menghasilkan kekalahan baru dan meningkatkan permusuhan rakyat Iran terhadap AS. Ia juga menuduh Washington melakukan “terorisme ekonomi” serta memperingatkan bahwa tekanan tersebut dapat mengancam perekonomian global dan kedaulatan negara lain. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi juga menolak klaim bahwa ekonomi Iran telah hancur. Menurutnya, perang yang sudah dijalankan AS selama ini telah gagal, isitlah D-Day Economy sendiri cuma nama baru untuk kegagalan berikutnya.
Penasihat ekonomi yang pernah bekerja di Bank Sentral Iran, Mehrdad Sepahvand, juga menilai kondisi ekonomi Iran tidak separah yang digambarkan Trump. Menurutnya, inflasi memang tinggi dan resesi terjadi, tetapi toko-toko menjual makanan, dan kebutuhan pokok masih terpenuhi. Belum terlihat kepanikan maupun penarikan dana besar-besaran. Menurutnya, Iran diuntungkan dengan karakter geografisnya yang sulit sepenuhnya diisolasi dari dunia. Wilayahnya luas, sumber daya alam besar, keragaman geografis, serta perbatasan darat dan laut yang panjang. Kondisi itu, membuatnya kebal terhadap tekanan eksternal.
Ia menambahkan bahwa Iran telah berpengalaman menghadapi tekanan ekonomi dalam waktu lama, namun sejarah membuktikan negara ini berhasil keluar dengan selamat. Tekanan ekonomi AS juga muncul setelah Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan seluruh aktivitas perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran. UEA merupakan salah satu mitra dagang terpenting Iran dan sebelum perang menjadi sumber impor terbesar Iran, dengan kontribusi lebih dari 30 persen terhadap total impor Iran pada 2024, menurut data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Amerika harus tahu bahwa, tantangan terbesar saat ini adalah China. Beijing punya hubungan perdagangan, keuangan, dan logistik yang jauh lebih dalam dengan Iran. Karena itu, kemampuan AS memaksa negara-negara lain memutus hubungan ekonomi dengan Teheran akan sangat bergantung pada sejauh mana China bersedia mengikuti tekanan tersebut. China sendiri menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan pemberian sanksi dan tekanan ekonomi tidak akan membantu menyelesaikan persoalan.
Di tengah ancaman “Economic D-Day”, jalur perdagangan dan pelayaran di Selat Hormuz juga masih mengalami gangguan. Data Lloyd's List Intelligence menunjukkan hanya 73 pelayaran melintasi selat tersebut pada pekan yang berakhir 16 Agustus, turun dari 91 pelayaran pada pekan sebelumnya. Jumlah tersebut masih jauh di bawah kondisi sebelum perang. Ancaman Trump turut memengaruhi pasar energi. Harga minyak Brent tercatat naik 0,5 persen menjadi US$92,09 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,3 persen menjadi US$86,07 per barel. (EER)