JAKARTA, AFU.ID — Spanyol menolak ikut dalam operasi militer di Selat Hormuz.
Penolakan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares pada Selasa, (2/6/2026).
Albares mengatakan Spanyol tidak akan mengambil bagian dalam tindakan yang dapat memperluas konflik di kawasan tersebut.
Menurut dia, krisis di Selat Hormuz tidak bisa diselesaikan dengan cara militer.
“Kami tidak akan mengambil bagian dalam tindakan apa pun yang dapat berarti eskalasi,” kata Albares.
Pernyataan itu disampaikan saat Albares ditanya apakah Spanyol akan bergabung dalam misi NATO untuk mengamankan Selat Hormuz.
Misi itu disebut dapat muncul jika Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai.
Albares menegaskan Spanyol tetap mendorong jalan diplomasi.
Ia menyebut tidak ada solusi militer untuk krisis tersebut.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Amerika Serikat dan Iran.
Jalur laut itu penting bagi perdagangan energi dunia.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang target di Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Sebelumnya, menteri pertahanan dari sekitar 40 negara juga membahas koalisi untuk membuka blokade Selat Hormuz.
Pembicaraan itu dipimpin Inggris dan Prancis.
Koalisi tersebut disebut bertujuan melengkapi proses diplomatik untuk menyelesaikan konflik Amerika Serikat dan Iran.
Namun, sikap Spanyol menunjukkan tidak semua negara Barat sepakat ikut jalur militer.
Madrid memilih menjaga jarak dari operasi yang dinilai berisiko memperluas perang. (RHU)