JAKARTA, AFU.ID - Di sebuah studio podcast yang dipenuhi tumpukan catatan dan layar monitor yang menampilkan data-data statistik, perbincangan tentang masa depan umat Islam mengalir panjang. Dalam episode terbaru Akbar Faizal Uncensored, host Akbar Faizal menggali pandangan pendakwah Felix Siauw mengenai tantangan besar yang dihadapi umat Islam di era modern.
Diskusi itu bermula dari pertanyaan Akbar tentang bagaimana logika dan ajaran Islam diterjemahkan kepada generasi yang sedang mencari makna. Ia menegaskan bahwa percakapan tersebut bukan tentang pribadi Felix, melainkan tentang cara berpikir yang ia wakili dalam melihat Islam hari ini.
Felix menjawab dengan sebuah premis yang tegas: Islam, menurutnya, sebenarnya tidak sedang menghadapi masalah. Yang bermasalah justru umatnya. Ia menilai banyak muslim hari ini semakin jauh dari nilai-nilai dasar ajaran Islam itu sendiri.
“Kalau Islam sih sebenarnya tidak pernah menghadapi permasalahan, tapi muslimnya yang menghadapi,” kata Felix dalam percakapan itu. Jarak antara ajaran dan praktik, menurutnya, kini semakin lebar.
Dalam sebuah pernyataan yang ia akui sendiri sebagai “tidak populer”, Felix bahkan mengatakan sebagian besar muslim justru mengkhianati Islam. Ia merujuk pada ayat pertama Al-Qur’an—Iqra, perintah untuk membaca—sebagai simbol utama dari semangat intelektual dalam Islam.
Namun realitas yang ia lihat justru berlawanan. Felix menyinggung rendahnya minat baca di kalangan masyarakat, termasuk di negara-negara muslim. Ia menyebut data literasi di Indonesia yang berada di posisi rendah sebagai contoh nyata bagaimana perintah pertama dalam Islam tidak dijalankan secara serius.
“Kalau minat baca rendah, bagaimana dengan literasi yang lain?” ujarnya.
Felix menilai Islam sejak awal mendorong manusia untuk berpikir, membaca, dan bersikap adil dalam menilai sesuatu. Dalam pandangannya, inti dari keislaman bukan semata ritual, tetapi cara berpikir dan cara merespons peristiwa.
Akbar Faizal kemudian membawa diskusi ke wilayah yang lebih luas. Ia menyoroti kenyataan bahwa banyak negara mayoritas muslim tertinggal dalam berbagai indikator global: ekonomi, pendidikan tinggi, riset ilmiah, hingga kualitas institusi negara.
Ia bahkan menyinggung fenomena yang cukup sensitif: sebagian generasi muda di negara-negara Arab mulai meninggalkan agama, sementara di sisi lain justru ada orang Barat yang tertarik memeluk Islam.
Felix mengakui fakta tersebut. Menurutnya, kemunduran dunia Islam baru terlihat jelas dalam dua hingga tiga abad terakhir. Ia menyebut periode setelah tahun 1800 sebagai fase ketika umat Islam mulai tertinggal dalam hampir semua bidang.
Padahal jika melihat sejarah yang lebih panjang, katanya, peradaban Islam pernah memimpin dunia selama berabad-abad. Dari sekitar abad ke-7 hingga abad ke-17, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan, perdagangan, dan perkembangan peradaban global.
“Artinya harus ada sesuatu yang terjadi setelah periode itu,” kata Felix, mencoba menelusuri akar kemunduran tersebut.
Ia kemudian menegaskan satu pandangan penting: Islam tidak bisa diukur hanya dari simbol-simbol luar seperti pakaian, ritual, atau identitas budaya. Bahkan pada masa Nabi, kata Felix, orang-orang yang berpakaian seperti masyarakat Arab tidak otomatis menjadi muslim.
Baginya, inti Islam justru terletak pada cara berpikir dan cara seseorang merespons peristiwa. Dari sanalah, menurut Felix, nilai-nilai Islam sebenarnya tercermin.
Perbincangan di podcast itu tidak memberikan jawaban final atas pertanyaan besar tentang kemunduran atau kebangkitan dunia Islam. Namun dialog tersebut membuka satu ruang refleksi: bahwa perdebatan tentang iman, ilmu, dan masa depan peradaban masih terus berlangsung—dan mungkin memang harus terus dipertanyakan. (bs)