JAKARTA, AFU.ID - Percakapan panjang tentang agama, politik, dan masa depan umat Islam mengalir dalam episode terbaru podcast Akbar Faizal Uncensored. Di studio yang dipandu mantan legislator Akbar Faizal, pendakwah Felix Siauw menyampaikan sejumlah pandangan yang memantik diskusi tajam, termasuk pernyataan yang menyebut mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai “khalifah” dalam konteks kekuasaan global.
Diskusi bermula dari refleksi Felix tentang kondisi umat Islam masa kini. Ia menyebut jarak antara ajaran Islam dan praktik umatnya semakin lebar. Dalam pandangannya, banyak muslim hari ini menjalankan agama hanya sebagai pengetahuan, bukan sebagai prinsip hidup yang memandu cara berpikir dan bertindak.
Felix bahkan melontarkan pernyataan yang ia sadari bisa dianggap tidak populer. Ia menilai sebagian besar muslim justru “mengkhianati Islam” karena tidak menjalankan ajaran dasar yang menekankan penggunaan akal dan pencarian kebenaran.
Ia mengaitkan pandangannya dengan kisah dalam Al-Qur’an tentang kritik terhadap tradisi menyembah berhala hanya karena diwariskan nenek moyang. Menurut Felix, pola yang sama masih terjadi di masyarakat modern: banyak orang beragama sekadar mengikuti tradisi tanpa berusaha memahami alasan di balik keyakinan itu.
“Problematika kita adalah agama diajarkan hanya sebagai pengetahuan, bukan prinsip hidup,” ujarnya dalam perbincangan tersebut.
Percakapan kemudian bergerak ke isu politik. Akbar Faizal menyebut bahwa politik pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan publik. Felix menanggapi dengan sudut pandang berbeda. Ia mengatakan politik sejatinya adalah bagian dari peradaban dan bahkan, dalam sejarah agama, merupakan pekerjaan para nabi.
Menurutnya, istilah politik berakar dari kata “polis” yang merujuk pada kehidupan kota dan peradaban. Dalam sejarah keagamaan, para nabi tidak hanya menyampaikan ajaran spiritual, tetapi juga mengatur kehidupan masyarakat.
Dari sana, pembicaraan mengarah pada konsep khilafah—sistem kepemimpinan politik dalam sejarah Islam. Felix berpendapat konsep itu sering disalahpahami karena orang membahasnya tanpa memperbaiki cara berpikir terlebih dahulu.
Ia bahkan melontarkan pertanyaan retoris kepada Akbar Faizal: apakah mungkin khilafah sebenarnya sudah ada dalam bentuk lain di dunia modern?
Dalam penjelasannya, Felix menyebut bahwa jika melihat dari fungsi kekuasaan global, pemimpin negara adidaya dapat memiliki pengaruh yang menyerupai peran khalifah dalam mengatur tatanan dunia.
Dalam konteks itulah ia menyinggung Donald Trump. Menurut Felix, jika dilihat dari pengaruh geopolitik dan kemampuan menentukan arah kebijakan global, Trump dapat dianalogikan sebagai “khalifah versi dunia modern”.
Namun ia menegaskan bahwa yang dimaksud bukanlah khalifah dalam arti kepemimpinan Islam, melainkan analogi tentang figur yang memiliki pengaruh luas terhadap tatanan global.
Sepanjang dialog, Akbar Faizal beberapa kali menanggapi dengan nada kritis, terutama ketika pembahasan menyentuh implikasi politik dari gagasan khilafah. Ia mengingatkan bahwa dunia modern terdiri dari negara-negara berdaulat dengan sistem politik yang berbeda-beda.
Meski demikian, diskusi tetap berjalan terbuka. Percakapan itu memperlihatkan bagaimana isu agama, logika, dan politik sering kali saling bersinggungan—dan memicu perdebatan panjang tentang masa depan peradaban, termasuk di kalangan umat Islam sendiri. (bs)