JAKARTA, AFU.ID - Di sebuah studio podcast yang kerap memantik perdebatan tajam, percakapan antara Akbar Faizal dan Felix Siauw mengalir dari nostalgia sejarah Islam menuju kritik tajam terhadap cara berpikir umat hari ini. Episode terbaru podcast Akbar Faizal Uncensored itu tidak sekadar mengulas masa lalu, tetapi menggugat bagaimana umat memahami ilmu, agama, hingga politik di masa kini.
Percakapan bermula dari refleksi tentang masa keemasan intelektual Islam. Akbar Faizal menyinggung nama-nama besar seperti Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, hingga Al-Farabi—tokoh-tokoh yang dahulu menjadi pilar ilmu pengetahuan dunia. Mereka bukan hanya ahli filsafat atau ilmuwan, tetapi perintis ilmu modern seperti kedokteran, matematika, dan logika.
Namun menurut Felix Siauw, mengagungkan tokoh-tokoh itu tanpa memahami sistem yang melahirkan mereka hanyalah nostalgia. “Yang harus dipelajari bukan orangnya, tapi polanya,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kejayaan intelektual Islam dulu lahir dari tradisi berpikir kritis—sesuatu yang menurutnya mulai memudar di banyak komunitas muslim hari ini.
Felix mengkritik cara pendidikan agama yang terlalu menekankan “apa” dan “bagaimana”, tetapi jarang menyentuh pertanyaan paling mendasar: mengapa. Dalam pandangannya, pertanyaan “why” adalah kunci untuk melahirkan pemahaman yang mendalam. Tanpa itu, agama hanya berhenti pada ritual, bukan gagasan yang membentuk cara hidup.
Akbar Faizal pun menimpali dengan pengamatan yang lebih sosial. Ia menilai banyak ceramah agama hari ini terasa tidak relevan dengan kehidupan masyarakat. Bahkan ia menyinggung fenomena khutbah Jumat yang sering membuat jamaah kehilangan perhatian karena materi yang dianggap jauh dari realitas sehari-hari.
Percakapan kemudian bergeser ke topik yang lebih sensitif: gagasan tentang khilafah yang pernah diasosiasikan dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia. Felix mengakui dirinya masih melihat konsep itu sebagai bagian dari diskursus politik Islam, meski ia mencoba menjelaskannya dari sudut pandang sejarah, normatif, dan logika geopolitik.
Akbar Faizal menanggapi dengan skeptis. Ia mengingatkan bahwa sejarah mencatat runtuhnya Kekhalifahan Ottoman pada 1924 oleh Mustafa Kemal Atatürk, dan sejak saat itu dunia Islam berkembang menjadi negara-negara bangsa dengan jalannya masing-masing.
Meski berbeda pandangan, dialog itu menunjukkan satu benang merah: kebutuhan akan pemikiran kritis. Felix menutup argumennya dengan satu kalimat yang menjadi refleksi panjang dalam diskusi tersebut—bahwa Tuhan tidak pernah melarang manusia untuk berpikir, justru manusialah yang sering membatasi pikirannya sendiri.
Dalam ruang diskusi yang panas namun terbuka itu, perdebatan tidak berakhir pada kesepakatan. Tetapi setidaknya, ia memperlihatkan bagaimana gagasan tentang agama, sejarah, dan masa depan masih terus dipertanyakan—bukan hanya oleh akademisi, tetapi juga oleh publik yang semakin kritis. (*)