JAKARTA, AFU.ID — Komedian Cak Lontong menilai sebuah negara berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan jika lawakan atau humor mulai dianggap sebagai sebuah ancaman. Menurutnya, lawakan pada dasarnya merupakan bagian dari hiburan yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat secara santai. Karena itu, ia mempertanyakan ketika materi komedi justru dipandang sebagai sesuatu yang membahayakan atau harus ditakuti. “Sebuah negara yang betul-betul terancam itu ketika beranggapan lawakan itu adalah ancaman,” kata Cak Lontong Hal itu disampaikannya saat berbincang dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang disaksikan Afu.id, Jumat (14/8/2026).
Humor semestinya menjadi ruang untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang ringan. Ketika sesuatu yang seharusnya dinikmati sebagai guyonan justru dianggap sebagai ancaman, menurut dia, persoalannya bukan lagi berada pada komedian yang menyampaikan lawakan. “Hal yang seharusnya dinikmati sebagai sesuatu yang humor, guyon, dan santai saja merasa terancam itu kan berarti sangat parah,” ujar komika yang bernama asli Lies Hartono ini.
Sebagai gambaran, ia mengibaratkan situasi itu seperti seseorang yang tidak lagi mampu membedakan antara badut dengan begal atau perampok karena sama-sama dianggap menakutkan. “Bayangkan, ketemu badut itu jadi sudah menakutkan seperti mau ketemu begal dan perampok. Berarti kan parah kondisi negaranya, karena tidak bisa membedakan mana badut, mana begal, mana perampok,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Cak Lontong membahas pengalamannya sebagai komedian yang ikut terseret dalam pilihan politik. Ia mengakui pernah merasakan dampak politik terhadap pekerjaannya, termasuk pembatalan sejumlah undangan tampil. Ada pihak yang sebelumnya mengundangnya untuk tampil dalam sebuah acara, tetapi kemudian membatalkannya setelah pilihan politiknya diketahui. Bahkan, kata dia, terdapat acara yang sudah memberikan uang muka tetapi tetap dibatalkan. “Bahkan yang sudah DP pun ditutup. Tapi tidak diminta duitnya. Mungkin rasa takutnya lebih kuat daripada rasa malunya,” ujar Cak Lontong.
Dia menegaskan dirinya membedakan posisi sebagai seorang warga negara yang memiliki pilihan politik dengan profesinya sebagai pelawak. Ketika berada di atas panggung, ia mengatakan hanya ingin menjalankan tugasnya sebagai penghibur. “Saya ini orang yang kalau saya bilang ini profesi saya, saya tidak mungkin memecahkan piring saya dengan sengaja. Terus saya bagaimana cara makan?” katanya.
Dia juga mengingat pesan almarhum anggota Srimulat, Mas Mami, yang menurutnya menjadi salah satu pegangan dalam menjalankan profesi sebagai komedian. Seorang penghibur, kata Cak Lontong, harus membuat orang senang dan tidak menggunakan panggung untuk menyakiti orang lain. “Kita ini sebagai penghibur. Tugas kita membuat orang senang. Yang dijaga, jangan pernah menyakiti orang, apalagi dalam menjalankan profesi,” tuturnya.
Ia menilai persoalan tersebut berkaitan erat dengan makna kemerdekaan yang menjadi tema pembicaraan dalam podcast tersebut. Menurut dia, kemerdekaan tidak hanya berarti bebas secara formal, tetapi juga menyangkut kebebasan berpikir. “Merdeka itu bukan masalah status, bukan masalah definisi, tapi masalah yang sangat personal dan persepsi,” katanya. Karena itu, ia menganggap masyarakat yang masih mudah tersinggung atau merasa terancam oleh lawakan justru belum sepenuhnya memerdekakan pikirannya. “Orang baper itu susah untuk merdeka,” ujar Cak Lontong.
Perbedaan pilihan politik seharusnya tidak membuat hubungan profesional maupun kehidupan sosial seseorang berubah menjadi permusuhan. Pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi dan semestinya tidak digunakan untuk membatasi seseorang dalam menjalankan profesinya sebagai komedian. “Kalau seseorang memilih secara politik, itu pilihan demokratis. Tetapi seharusnya itu tidak ditarik-tarik ke dalam bagaimana Anda bekerja secara profesional sebagai pelawak atau komedian,” katanya.
Dirinya kemudian mengajak masyarakat melihat humor sebagai bagian dari kehidupan demokratis. Menurutnya, bangsa yang sehat semestinya mampu menikmati kritik, guyonan, dan humor tanpa menjadikannya sebagai ancaman. Ia berharap masyarakat dapat lebih mampu membedakan antara panggung komedi dan persoalan politik sehingga perbedaan pilihan tidak membuat ruang publik kehilangan kebebasannya. (EER)