JAKARTA, AFU.ID – HIV tidak selalu menunjukkan gejala pada fase awal. Seseorang dapat merasa sehat selama bertahun-tahun, padahal virus terus menyerang sistem kekebalan tubuh. Karena itu, pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk mengetahui status kesehatan dan memulai pengobatan lebih cepat bila dibutuhkan.
Kepala Dinas Kesehatan Riau Zulkifli mengatakan peningkatan temuan HIV dalam beberapa tahun terakhir juga dipengaruhi oleh semakin luasnya layanan skrining di puskesmas dan rumah sakit. Semakin banyak orang yang dapat mengakses pemeriksaan, semakin banyak pula kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi bisa ditemukan. “Semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin cepat pula terapi dapat diberikan sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan,” kata Zulkifli, Jumat (3/7/2026).
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel-sel sistem kekebalan tubuh. Tanpa pengobatan, infeksi HIV dapat melemahkan daya tahan tubuh hingga berkembang menjadi AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome.
Penularan HIV terjadi melalui paparan cairan tubuh tertentu, terutama darah, cairan semen, cairan vagina, cairan rektal, dan ASI. Risiko penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa perlindungan, penggunaan jarum suntik secara bergantian, atau penularan dari ibu dengan HIV kepada bayi selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui tanpa penanganan medis yang tepat.
HIV tidak menular melalui bersalaman, berpelukan, berbagi alat makan, tinggal serumah, menggunakan toilet yang sama, terkena keringat, atau gigitan nyamuk. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak menjauhi atau mendiskriminasi orang dengan HIV.
Tes HIV perlu dipertimbangkan oleh siapa pun yang merasa pernah memiliki risiko paparan. Pemeriksaan juga penting bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, ibu hamil, serta orang yang ingin memastikan kondisi kesehatannya setelah mengalami situasi berisiko.
Layanan pemeriksaan HIV kini tersedia di sejumlah puskesmas dan rumah sakit. Hasil tes akan ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan melalui pemeriksaan sesuai prosedur, konseling, serta rujukan pengobatan bila diperlukan.
Orang yang didiagnosis HIV dapat menjalani terapi antiretroviral atau ARV. Pengobatan ini tidak menghilangkan HIV dari tubuh, tetapi dapat menekan jumlah virus, menjaga sistem kekebalan, dan membantu orang dengan HIV tetap menjalani hidup sehat serta produktif. Kunci utamanya bukan menunggu tubuh sakit atau muncul gejala berat serta produktif.
Kunci utamanya bukan menunggu tubuh sakit atau muncul gejala berat. Tes dini, akses pengobatan, dan kepatuhan menjalani terapi dapat membantu mejaga kualitas hidup sekaligus menekan risiko penularan kepada orang lain. (RHU)